Kesultanan Asahan: Dari Persinggahan Menjadi Kekuatan Monarki di Timur Sumatra
![]() |
| Bangunan Istana Asahan (Sumber: Wikipedia.org) |
Kesultanan Asahan
merupakan salah satu entitas politik kerajaan Melayu penting di pesisir timur
Sumatra. Perjalanannya mencerminkan dinamika politik kawasan—mulai dari
pengaruh Aceh, pendudukan kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, dan masa Revolusi
Sosial 1946 di Timur SUmtara, hingga perannya sebagai institusi adat di
Indonesia modern sekarang. Sejarahnya memperlihatkan bagaimana
kerajaan-kerajaan Melayu beradaptasi, bernegosiasi, dan pada akhirnya mengalami
transformasi besar dalam pusaran kolonialisme dan revolusi sosial.
…………
Sejarah Berdirinya Kesultanan
Asahan
Sejarah Kesultanan Asahan bermula
sejak tahun 1630 Masehi di Tanjung Balai, namun jauh sebelum itu sekitar tahun
1612 Masehi Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh melakukan ekspedisi ke
Johor dan Malaka untuk manaklukannya sekaligus memperkecil pengaruh Portugis di
Selat Malaka. Perjalanan untuk ekspedisi ini, Sultan Iskandar Muda beristirahat
disebuah hulu sungai, kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai tanjung
yaitu pertemuan Sungai Asahan dengan Sungai Silau, dan bertemu dengan Raja Simargolang
seorang penguasa tempat tersebut.
Selama peristirahatan di tanjung
tersebut, Sultan Iskandar Muda mendirikan sebuah camp atau balai sebagai
tempat berkumpul dan sekaligus permusyawaratannya selama disana. Pada akhirnya
tempat tersebut berkembang menjadi sebuah perkampungan yang ramai karena
menjadi akses mudah dalam perdagangan di Selat Malaka, dikemudian hari tempat
itu disebuat “Tanjung Balai”. Menurut kisah, kata Asahan juga berasal dari
sebuah rumput yang daunnya tajam (kasar) dan tebal sehingga digunakan rombongan
Sultan Iskandar Muda sebagai pengasah atau “asahan” pedang, dan tombak serta
membersihkan Meriam dari karat akibat karosi air laut.
Sultan pertama Kesultanan Asahan
adalah Abdul Jalil, ia merupakan anak dari Sultan Iskandar Muda dengan istrinya
Siti Ungu Selendang Bulan yang merupakan putri dari Raja Halib dari Kerajaan Pinang
Awan (Kota Pinang) yang bergelar “Marhum Mangkat di Jambu”. Pemerintahan
Kesultanan Asahan awalnya menjadi bagian pemerintahan administratif Kesultanan
Aceh. Namun beberapa tahun kemudian terjadi perselisihan antara Sultan Abdul
Jalil dengan Raja Simargolang karena secara sepihak mengangkat kedua cucunya
menjadi raja di Kota Bayu dan Tanjung Pati. Secara terpaksa Sultan Abdul Jalil
mengundur diri ke wilayah Hulu Batubara dan menyurati ayahnya di Kesultanan
Aceh. Bala bantuan dari Aceh datang dengan di pimpin langsung Sultan Iskandar
Muda, dan kemudian Raja Simargolang meminta ampun dan menyerahkan diri sehingga
membuat perjanjian damai disebuah wilayah yang kemudian hari dikenal dengan
“Kampung Marjanji Aceh” di Asahan.
Perjalanan sejarah Kesultanan
Asahan mungkin kurang populer dalam pembahasan sejarah nusantara, hal ini
terlihat dari minimnya sumber rujukan dalam mencari identitas kesultanan ini
dengan baik, namun demikian Kesultanan Asahan memiliki sejarah yang cukup unik
dan gemilang. Akan tetapi, hampir dalam sejarah setiap sultan, ibu kota
pemerintahan Kesultanan Asahan berpindah-pindah mulai dari Tanjung Balai,
Simpang Toba, Banitan, Kampung Baru, Pasir Putih, Rantau Panjang, dan kembali
lagi ke Tanjung Balai. Masa kebangkitan Kesultanan Asahan dimulai sejak era
keempat, yaitu di masa kepemimpinan Sultan Abdil Jalil II (1760-1765 Masehi).
Pada masanya, Kesultanan Asahan membantu Kesultanan Siak Riau melakukan
penyerangan terhadap Belanda dan VOC di Pulau Gantung, sehingga Pulau Gantung
kembali menjadi milik Kesultanan Siak. Atas hal ini, Kesultanan Siak memberi
gelar “Yang Dipertuan” kepada Sultan Abdul Jalil II.
Kesultanan Asahan merupakan
kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan Aceh, sehingga otoritas tertinggi
tetap berada pada Sultan Aceh. Di tingkat lokal, pemerintahan dipimpin oleh
Sultan Asahan yang bergelar Yang Dipertuan Besar atau Sri Paduka Raja,
dibantu oleh Yang Dipertuan Muda. Sementara itu, wilayah seperti
Batubara dan daerah yang lebih kecil dipimpin oleh para datuk.
Masa Kolonial Belanda
Kesultanan Asahan berhasil
dikuasai Belanda pada tahun 1865 Masehi. Kesultanan Asahan pada generasi ke
Sembilan, yaitu Sultan Ahmad Syah. Terjadi perang hebat dengan Belanda, hal ini
memperkokoh kedudukan Kesultanan Asahan yang tidak bersedia tunduk dengan
Belanda. Puncaknya terjadi pada tahun 1865 Masehi, Kesultanan Asahan di bawah
kepemimpinan Sultan Ahmad Syah melakukan perlawanan dengan Belanda namun akhirnya
kalah, sehingga Sultan dan adiknya diasingkan. Sultan Ahmad Syah diasingkan ke
Bengkalis (Riau) dan adiknya Tengku Muhammad Adil ke Bogor, adiknya yang lain
Tengku Pangeran Besar Muda diasingkan ke Ambon. Pemerintahan di Asahan
dilaksanakan Tengku Nikmatullah dari Negeri Kualuh mulai dari tahun 1865 sampai
tahun 1868 Masehi atas arahan Elisa Netcher seorang Residen Belanda di Riau
untuk menanda tangani kepentingan Belanda di Asahan. Kemudian, pada tahun 1868
sampai tahun 1886, Asahan berada di bawah perintah empat pembesar Melayu. Hal
ini memicu kembali perlawanan terhadap Belanda di Asahan dari masyarakat
pejuang Batak dan Melayu untuk mendesak Belanda memulangkan Sultan Ahmad Syah
dari pengasingan.
Pada tahun 1885 Masehi, Sultan
Ahmad Syah diperbolehkan Belanda kembali menguasai Asahan dengan syarat tidak
ikut campur dalam urusan politik Belanda. Sejak saat itu kesultanan tidak
mempunyai otoritas tinggi kecuali hanya pada ruang lingkup yang lebih sempit.
Sekitar tahun 1886 Masehi, Sultan Ahmad Syah mendirikan Masjid dan diberi nama
“Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjungbalai”. Hal ini menjadi kekuatan dalam
membangun jiwa umat agar tetap dalam nilai-nilai Islam. Pada tahun 1867 Masehi,
Afdeling Asahan dibentuk yang berkedudukan di Tanjung Balai. Kemudian Afdeling
Asahan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Onder Afdeling Batu Bara, Onder
Afdeling Asahan, dan Onder Afdeling Labuhan Batu.
Sultan Ahmad Syah tidak memiliki
anak, sebelum meninggal dia meninggalkan wasiat agar kesultanan diterukan oleh
Tengku Ngah Tanjung, kemudian Tengku Ngah Tanjung menyerahkan tampuk kekuasaan
kepada ponakan Sultan Ahmad Syah, yaitu Muhammad Husein Syah II pada tahun 1888
Masehi. Pada masanya ini, hubungan Kesultanan Asahan dengan Belanda semakin
baik, sehingga pembangunan dan hubungan dagang hingga Eropa terjalin dengan
mulus. Belanda kemudian membangun jalan, rel kereta api dan memperluas
pelabuhan Tanjung Balai (sekarang Pelabuhan Teluk Nibung). Hubungan erat ini
semakin nyata ketika Sultan Muhammad Husein Syah II menerima anugrah “Ridder
der Orde van den Nederlansche” dari Ratu Belanda, Wilhelmina.
Dengan demikian, semasa kolonial
Belanda menjadi periode perubahan besar bagi Kesultanan Asahan. Setelah
melakukan perlawanan sengit pada 1865 dan mengalami kekalahan, kekuasaan politik
kesultanan melemah serta berada di bawah kontrol Belanda secara penuh. Tugas
dan fungsi Kesultanan hanya berada pada ruang syara’ dan adat. Hubungan Belanda
berubah menjadi lebih kooperatif. Situasi ini membawa stabilitas serta
perkembangan infrastruktur dan perdagangan, tetapi sekaligus menandai semakin
kuatnya pengaruh kolonial dalam struktur pemerintahan dan kehidupan politik
Asahan.
Revolusi Sosial 1946
Setahun setelah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia atas Jepang pada tahun 1945 Masehi, di tahun berikutnya
terjadi tragedy berdarah di Sumatera Timur yang disebut dengan “Revolusi Sosial
1946”. Pada masa ini, Kesultanan Asahan di pimpin oleh Sultan Syaiboen Abdul
Jalil III generasi ke sebelas Kesultanan Asahan. Semasa revolusi ini para
bangsawan, kerabat dan keturunan kesultanan diculik dan dibunuh, namun sultan
selamat dengan menyelamatkan diri dengan melompat jendela istana dan
bersembunyi di sungai. Gerakan revolusi sosial secara sepihak melakukan
tindakan brutal terhadap semua lapisan masyarakat tidak terkecuali masyarakat
biasa. Walaupun pada dasarnya munculnya bentuk gerakan ini atas dasar
kolonialisme yang dilancarkan Belanda selama pendudukannya di Indonesia, namun
terdapat beberapa tindakan yang terlalu berlebihan dan patut disayangkan pernah
terjadi di Indonesia khususnya Sumatera Timur sehingga hampir semua kalangan
terkena imbasnya.
Akibat kejadian besar ini,
Kesultanan Asahan hampir sepenuhnya runtuh apalagi nilai-nilai monarki sudah
terhapus secara otomatis ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasca
kejadian ini, pada tahun 1946 Kesultanan Asahan bergabung dengan Indonesia.
Sejak Kesultanan Asahan ditaklukkan Belanda, pengaruh Sultan hanya sebatas lembaga
adat dan simbol budaya Melayu di Asahan, sepeninggal Sultan Syuaibun Abdul Jalil
Rahmad Syah II, penggantinya adalah Tengku Kamal Abraham Abdul Jalil Rahmad
Syah. Ia naik tahta pada tahun 1980 Masehi, uniknya beliau bergelar Dokter (dr.)
spesialis penyalit dalam (Sp.Pd.) dari Fkultas Kedokteran di Universitas
Sumatera Utara (USU) dan wafat pada 26 Mei 2023 dimakamkan di Medan.
Sepeninggalnya, sultan generasi ke tiga belas Kesultanan Asahan diamanahkan
kepada Sultan Muhammad Iqbal Alvinananda Abdul Jalil Rahmadsyah. Ia menjadi
sultan Kesultanan Asahan sejak 2023 hingga sekarang.
![]() |
| Kepala Suku Kesultanan Asahan (Kemungkinan di dalam Istana) Tahun 1933 (Sumber: KITLV 32079) |
Sejarah Kesultanan Asahan adalah
kisah tentang adaptasi terhadap perubahan zaman. Dari kerajaan bawahan Aceh,
menghadapi kolonialisme Belanda, bertahan di masa Jepang, hingga melewati
Revolusi Sosial 1946, Asahan mengalami transformasi mendasar. Walau tidak lagi
berkuasa secara politik, jejaknya tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat
dan warisan budaya Melayu di pesisir timur Sumatra. Setelah Indonesia merdeka,
wilayah bekas Kesultanan Asahan menjadi bagian dari struktur administratif
nasional, kini meliputi Kabupaten Asahan dan Kota Tanjungbalai di Provinsi
Sumatera Utara. Saat ini, Kesultanan Asahan tidak lagi memiliki otoritas
pemerintahan formal. Perannya bertransformasi menjadi lembaga adat dan simbol
budaya Melayu. Tradisi, nilai-nilai Islam, dan warisan sejarah tetap dijaga
sebagai bagian dari identitas lokal.
Sumber:
Deby Chintia Saragih. (2025). “Sejarah
Kesultanan Asahan di Kota Tanjung Balai, Sumatra Utara”. Journal of Social
Studies Research, 3(1), 6-31. https://doi.org/10.33059/jssr.v3i1.11219.
Dien Madjid, Zulkifli, Jajat Burhanudin, Dadi Darmadi, Imam
Subchi, Kamarusdiana, Johan Wahyudi, Siti Ummi Masruroh, Asmuí, & Muhammad
Ishar Helmi. (2022). Ensiklopedia kesultanan di Nusantara, Jakarta: Badan
Litbang dan Diklat Kemenag RI.
Juraidi. (2023). “Sultan Asahan
XIII dinobatkan, ini pesan Gubernur Sumatera Utara”, Sumut.antaranews.com, https://sumut.antaranews.com/berita/541824/sultan-asahan-xiii-dinobatkan-ini-pesan-gubernur-sumatera-utara?page=all,
dikases pada 22 Februari 2026, Pukul 06.35 WIB.
Mailin. (2016). “Perkembangan
Islam di Sumatera Timur: Strategi Komunikasi Politik Sultan di Asahan”, Al-Balagh,
Vol. 1 (1): 91-104. https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/balagh/article/viewFile/508/408.
Solihah Titin Sumanti, &
Taslim Batubara. (2019). Dinamika Sejarah Kesultanan Melayu di Sumatera
Utara: Menelusuri Jejak Masjid Kesultanan Serdang, Yogyakarta: Atap Buku.
Tim Penyusun. (2023). Profil
Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Asahan 2023, Asahan: Dinas
Perpustakaan dan Arsip Pemkab Asahan.
Watni Marpaung. (2011). Mutiara
Kota Kerang Tanjung Balai Asahan: Mengungkap Sejarah Asal Usul Nama,
Kesultanan, Adat Istiadat, Tradisi, Makanan Daerah, Kesenian, Pendidikan dan
Sosial Budaya, Medan: Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi
Sumatera Utara.

.png)
0 Response to "Kesultanan Asahan: Dari Persinggahan Menjadi Kekuatan Monarki di Timur Sumatra"
Posting Komentar