Menelusuri Warisan Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara

Ilustrasi Imperium Besar Asia Tenggara, Sriwijaya

Ketika membahas sejarah Indonesia, tidak enak rasanya apabila tidak memasukkan pembahasan khusus tentang “Sriwijaya”. Dalam sejarah Asia Tenggara, nama Sriwijaya menempati posisi penting sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar hingga sekarang. Berdiri sekitar abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, Sriwijaya bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga pusat intelektual dan keagamaan yang menghubungkan dunia India dan Tiongkok. Warisan Sriwijaya tidak selalu tampak dalam bentuk bangunan monumental, tetapi jejak pengaruhnya masih dapat ditelusuri dalam geopolitik, budaya Melayu, hingga jaringan perdagangan Asia Tenggara modern.

*****

Mari kita mengenali lebih dalam dan lebih jauh tentang Sriwijaya sebagai imperium besar Asia Tenggara yang menguasai jalur perdagangan dan menjadi simbol kekuatan maritim serta budaya tanpa harus menaklukkan peta geografis suatu bangsa dan negara, namun mampu dalam memberikan kontrol agar tetap mengikuti pola yang diterapkannya dalam setiap mandalanya.

Pusat Maritim Asia Tenggara

Keunggulan utama Sriwijaya terletak pada posisinya yang strategis di sekitar Selat Malaka. Jalur ini sejak dahulu merupakan penghubung utama perdagangan antara India dan Tiongkok. Selain itu, Imperium Sriwijaya juga menguasai jalur Selat Sunda, dan jalur perdagangan internasional lainnya. Hal ini menjadi kekuatan yang mendudukkan Sriwijaya menjadi imperium besar walaupun kedudukan wilayahnya mulai dari Aceh hingga Jawa Timur, namun karena peran dalam menjaga jalur ini menjadikan Sriwijaya menjadi kekuatan yang mampu meletakkan diri sebagai penguasa tanpa invasi ke seluruh wilayah Asia Tenggara.

Pusat Kerajaan Imperium Sriwijaya (Sumber: Wikipedia.Org)

Kemampuan Sriwijaya sebagai penguasa lautan dan jalur perdagangan menjadikannya Imperium besar yang kekuatannya sangat disegani hingga India dan Tiongkok, bahkan mampu menyatukan Asia Tenggara dalam satu Bahasa, yaitu Bahasa Melayu. Dengan menguasai selat tersebut, Sriwijaya:

  • Mengontrol arus kapal dagang internasional
  • Memungut pajak dan bea pelabuhan
  • Membangun jaringan pelabuhan di Sumatra dan Semenanjung Melayu

Model kekuasaan ini dikenal sebagai kerajaan maritim atau thalassocracy, yaitu kekuatan yang bertumpu pada kontrol laut dan jaringan pelabuhan, bukan pada perluasan wilayah daratan secara langsung. Saking besarnya pengaruh Sriwijaya dalam jalur perdagangan sehingga disebut sebagai “poros” utama dalam penyebaran dagang ke berbagai belahan dunia khususnya India dan Tiongkok. Namun penting dipahami bahwa sebelum Imperium besar ini muncul, ada sebuah Kerajaan Kuno yang berpusat di Kerinci bernama “Ko-ying” dalam catatan Tiongkok semasa Dinasti Wu. Kerajaan ini menjadi pelopor perdagangan jalur internasional di Selat Malaka yang menyediakan banyak komoditas bahkan dari Persia. Pasca Koying melepaskan pengaruhnya terhadap Kerajaan Kuntala/Kandali, Jambi. Koying secara perlahan mulai meredup dan pengaruhnya kian mengecil serta dianggap semakin melemah setelah terkena bencana alam besar yang sangat dahsyat, kemudian Kuntala dianggap sebagai cikal bakal berdirinya Imperium Besar Sriwijaya.

Sriwijaya mengambil pelajaran penting dari pendahulunya, khususnya Kerajaan Koying yang mampu menguasai jalur perdagangan serta sebagai pelopor perdagangan internasional yang menyebabkan perkembangan pesat diberbagai daerah Sumatra karena adanya perdagangan ini. Pengaruh besar Imperium Sriwijaya di Asia Tenggara menyebabkan banyak mandala Sriwijaya yang tersebar hingga tanah Papua (Irian Jaya). Semasa Sriwijaya, tanah Papua disebut sebagai “Janggi” pada paruh akhir tahun 600-an Masehi. Pengaruh ini semakin menyebar sehingga mampu menyatukan Asia Tenggara dalam satu Bahasa perdagangan sebagai “Lingua Franca”, yaitu Bahasa Melayu. Hal ini bersatu dalam Bahasa mulai dari ujung Sumatera hingga Papua, Thailand, Vietnam, Malaysia, Brunei hingga Filipina (semua negara-negara di Asia Tenggara). Perkembangan selanjutnya, Sriwijaya semakin kuat kedudukannya, bahkan menjadi pusat pendidikan Buddha terbesar di Asia Tengara. Dapat dikatakan untuk melanjutkan studi lebih lanjut ke-Buddha-an harus mendapatkan ijazah kelulusan dari Sriwijaya.

Pusat Pembelajaran Buddhisme

Memasuki abad ke 5 Masehi, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat Buddhisme Mahayana di Asia Tenggara. Catatan dari biksu Tiongkok Yijing menyebut Sriwijaya sebagai tempat belajar tata bahasa Sanskerta dan ajaran Buddhis sebelum melanjutkan studi ke India. Pusat pendidikan ini dihuni ribuan biksu untuk belajar, setelah itu kemudian berangkat ke Nalanda, India. Jejak warisan religius ini dapat dilihat pada: Candi Muaro Jambi, Temuan arca Buddha dan prasasti berbahasa Sanskerta di Sumatra Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa Sriwijaya tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai simpul intelektual regional. Semakin kuat dan gigihnya India dalam menyebar luaskan ajaran Buddha, menjadikan Sriwijaya memiliki posisi sentral di Asia Tenggara, terutama dalam bidang ekonomi, perdagangan dan pendidikan.

Ilustrasi Sriwijaya Pusat Pendidikan Buddha

Pendidikan yang berpusat di Palembang ini menguraikan bahwa para pelajar (biksu) datang dari berbagai belajahan wilayah Asia ke Sriwijaya untuk mempelajari Bahasa Sanskerta dan Vinaya. Sriwijaya menjadi titik penting bagi para biksu Buddha, pelajar agama, dan cendekiawan sebelum melakukan pembelajaran dan perjalanan ke India yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan Buddhis. Perjalanan spiritual ini menjadikan Sriwijaya mengokohkan kedudukannya di Asia Tenggara dalam penyebaran agama Buddha dan menciptakan mandala besar di seluruh Asia Tenggara.

Sriwijaya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan kedua, namun juga menjadi pusat pendalaman nilai-nilai Buddha bagi para pelajarnya. Salah satu tokoh penting yang melanjutkan studi ke Sriwijaya adalah Atisha Dipankara, salah satu tokoh sentral dalam sejarah Buddha. Hubungan Sriwijaya dengan kerajaan Pala, India semakin erat dan kuat ditandai dengan sumbangan bangunan Vihara di India sebagai asrama pelajar Buddha di Nalanda.

Warisan Budaya Melayu Maritim

Sriwijaya sebagai Warisan Budaya Melayu Maritim merujuk pada peran dan kedudukan kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu pusat peradaban Melayu yang berkembang melalui kekuatan maritim—yaitu kemampuan menguasai jalur pelayaran, perdagangan laut, serta jaringan budaya di kawasan Asia Tenggara dan Samudra Hindia. Secara historis, Sriwijaya merupakan kerajaan besar yang berkembang sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi dengan pusat kekuasaan utama di sekitar Palembang. Kejayaan Sriwijaya tidak bertumpu pada pertanian darat seperti banyak kerajaan agraris, melainkan pada penguasaan jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan wilayah-wilayah di Asia.

Sriwijaya berperan penting dalam memperkuat identitas Melayu sebagai masyarakat maritim. Tradisi pelayaran, perdagangan, dan penggunaan bahasa Melayu sebagai lingua franca berkembang melalui jaringan Sriwijaya. Bahasa Melayu yang dahulu menjadi bahasa perdagangan kawasan kemudian menjadi dasar bagi bahasa nasional modern seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia. Sriwijaya dianggap sebagai peletak dasar dalam teknologi perkapalan, perdagangan internasional di Asia Tenggara. Kemudian menjadikan Bahasa Melayu sebagai Bahasa pengantar dalam dunia perdangan Asia Tenggara yang menjadikan posisinya semakin kuat dan semakin kokoh dalam maritim Asia Tenggara. Nilai toleransi yang dimiliki Sriwijaya sangat kuat sehingga mudah dalam menerima bangsa lain masuk ke Sumatra, baik itu untuk berdagang maupun menetap, dan memiliki wawasan bahari yang kuat.

Ilustrasi Sriwijaya Mewariskan Budaya dan Maritim

Imperium Sriwijaya dalam dunia internasional menjadi nilai yang sangat tinggi dalam mengembangkan diri sebagai diplomat ulung dan mempertahankan legitimasinya dalam perdagangan Asia Tenggara, serta dalam menyediakan komoditas penting dalam budaya India dan Tiongkok seperti kemenyan, kapur barus, emas, timah, gading dan rempah-rempah lainnya serta hasil laut juga disediakan di dalam perdagangan yang dilakukan Sriwijaya. Letak Sriwijaya sangat strategis karena berada di jalur pelayaran antara Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Samudra Hindia. Jalur ini merupakan rute utama perdagangan internasional sejak awal Masehi. Komoditas atau barang-barang yang diperjualbelikan Sriwijaya ini berasal dari wilayah Sumatra, Semenanjung Melayu, dan kepulauan Indonesia, lalu diperdagangkan ke India, Tiongkok, dan Timur Tengah.

Jaringan Politik dan Pergeseran Kekuasaan

Jaringan politik Sriwijaya mengacu pada cara kekuasaan dibangun melalui hubungan antarpelabuhan, kerajaan, dan jalur perdagangan, serta bagaimana pusat kekuasaan tersebut berubah seiring waktu karena faktor ekonomi, militer, dan geopolitik. Sriwijaya mengembangkan model kekuasaan berbasis jaringan atau mandala atau “network polity”. Dalam sistem ini, kekuasaan tidak ditentukan batas teritorial yang kaku, melainkan pengaruh terhadap pelabuhan dan penguasa lokal. Model ini kemudian menjadi pola umum kerajaan-kerajaan Asia Tenggara sebelum datangnya kolonialisme Eropa. Sriwijaya juga berperan dalam perkembangan identitas budaya Melayu. Bahasa yang digunakan dalam beberapa prasasti kerajaan adalah Bahasa Melayu Kuno, yang menjadi salah satu bentuk awal bahasa Melayu sebagai lingua franca perdagangan di Asia Tenggara.

Berbeda dengan kerajaan agraris yang berbasis wilayah daratan, sistem politik Sriwijaya berkembang sebagai jaringan kekuasaan maritim. Pusat kekuasaan utamanya berada di sekitar Palembang, tetapi pengaruhnya menjangkau berbagai pelabuhan strategis di sepanjang jalur perdagangan. Jaringan politik ini dibangun melalui:

  • Penguasaan pelabuhan dan jalur pelayaran,
  • Hubungan diplomatik dan perdagangan,
  • Pengiriman utusan ke kerajaan lain, dan
  • Pengakuan simbolik terhadap kekuasaan pusat.

Wilayah-wilayah di sekitar jalur penting seperti Selat Malaka dan Selat Sunda menjadi bagian dari jaringan ini karena posisinya sangat penting dalam perdagangan internasional. Dalam proses ekspansi politiknya, Sriwijaya tidak selalu menaklukkan wilayah secara langsung. Sebaliknya, kerajaan ini sering mengintegrasikan kerajaan atau komunitas lokal ke dalam jaringan politiknya. Dengan demikian, kekuasaan Sriwijaya berbentuk konfederasi pelabuhan dan pusat perdagangan, bukan kerajaan teritorial yang sepenuhnya terpusat. Seiring waktu, jaringan politik ini mengalami pergeseran pusat kekuasaan akibat perubahan dalam perdagangan dan dinamika politik regional.

Memasuki abad ke-11, Sriwijaya menghadapi tekanan dari luar dan perubahan jalur perdagangan. Salah satu peristiwa penting adalah ekspedisi militer dari Kerajaan Chola yang melemahkan posisi Sriwijaya dalam jaringan perdagangan. Ketika jaringan Sriwijaya mulai melemah, muncul pusat-pusat kekuasaan baru di kawasan Asia Tenggara, dan kerajaan-kerajaan kecil mulai membentuk keinginannya sendiri baik itu di Sumatra, Semenanjung Melayu maupun di pulau Jawa. Perkembangan ini mengubah peta politik kawasan dan secara bertahap mengakhiri dominasi Sriwijaya.

Jaringan politik Sriwijaya dibangun melalui penguasaan jalur perdagangan dan hubungan dengan berbagai pelabuhan di Asia Tenggara. Namun, perubahan ekonomi, konflik militer, dan munculnya kekuatan baru menyebabkan terjadinya pergeseran pusat kekuasaan, yang akhirnya mengakhiri dominasi Sriwijaya sebagai kekuatan maritim utama di kawasan. Walaupun kekuasaan politik Sriwijaya berakhir, warisan maritim dan kulturalnya tetap bertahan hingga sekarang.

Warisan Sriwijaya di Asia Tenggara Saat Ini

Warisan Sriwijaya di Asia Tenggara saat ini merujuk pada berbagai pengaruh sejarah, budaya, agama, bahasa, dan jaringan maritim yang berasal dari kejayaan Sriwijaya dan masih dapat dikenali dalam kehidupan masyarakat Asia Tenggara modern. Meskipun kerajaan ini telah runtuh sekitar abad ke-13, jejaknya tetap terlihat dalam identitas budaya, tradisi maritim, dan hubungan antarwilayah di kawasan. Salah satu warisan terpenting Sriwijaya adalah perkembangan bahasa Melayu sebagai lingua franca di kawasan perdagangan Asia Tenggara. Pada masa Sriwijaya, bahasa Melayu Kuno digunakan dalam administrasi dan komunikasi perdagangan, sebagaimana terlihat dalam prasasti-prasasti seperti Prasasti Kedukan Bukit dan Prasasti Talang Tuo.

Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa perdagangan kemudian berkembang luas dan menjadi dasar bagi:

  • Bahasa Indonesia modern
  • Bahasa Melayu di Malaysia
  • Bahasa Melayu di Brunei
  • Bahasa Melayu di Singapura
  • Dan lainnya

Hal ini menunjukkan bahwa jaringan komunikasi yang berkembang pada masa Sriwijaya memiliki dampak jangka panjang bagi identitas budaya kawasan. Sriwijaya juga dikenal sebagai kekuatan maritim yang menguasai jalur perdagangan penting di Asia. Wilayah yang dahulu berada dalam jaringan perdagangan Sriwijaya mencakup jalur strategis seperti Selat Malaka dan Laut Jawa. Hingga saat ini, wilayah-wilayah tersebut masih menjadi jalur perdagangan internasional yang sangat penting, menghubungkan ekonomi Asia Timur, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Dengan demikian, sistem jaringan pelabuhan yang berkembang sejak masa Sriwijaya dapat dianggap sebagai cikal bakal integrasi ekonomi maritim di Asia Tenggara.

Sriwijaya juga merupakan pusat pembelajaran agama Buddha yang penting di Asia Tenggara. Catatan dari biksu Tiongkok Yijing menyebut bahwa Sriwijaya menjadi tempat belajar bagi para biksu sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Pengaruh ini terlihat pada penyebaran tradisi Buddha di berbagai wilayah Asia Tenggara, terutama di:

  • Thailand
  • Myanmar
  • Kamboja

Selain itu, berbagai peninggalan arkeologis seperti arca Buddha dan situs candi menunjukkan hubungan budaya dan intelektual yang kuat antara Sriwijaya dan dunia Buddhis internasional. Jejak Sriwijaya masih dapat ditemukan melalui berbagai situs arkeologi, terutama di sekitar Palembang dan sepanjang Sungai Musi. Warisan Sriwijaya masih dapat dilihat dalam beberapa aspek: Geopolitik Selat Malaka terlihat dalam peta jalur dagang Selat Malaka tetap menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Identitas Sejarah dan Simbolik, hal ini tampak dari nama Sriwijaya digunakan dalam berbagai institusi pendidikan dan olahraga sebagai simbol kejayaan maritim. Jejak Arkeologis, terlihat dalam situs-situs di Sumatra menjadi pengingat bahwa Asia Tenggara pernah menjadi pusat peradaban global.

Dalam konteks modern, Sriwijaya sering dipandang sebagai simbol kejayaan peradaban maritim Asia Tenggara. Warisan Sriwijaya di Asia Tenggara saat ini tidak hanya terlihat dalam peninggalan arkeologis, tetapi juga dalam bahasa, jaringan perdagangan maritim, tradisi intelektual keagamaan, dan identitas budaya Melayu. Semua ini menunjukkan bahwa pengaruh Sriwijaya melampaui masa kejayaannya dan terus membentuk dinamika budaya dan sejarah kawasan hingga sekarang.

Menelusuri warisan sejarah Sriwijaya berarti memahami bagaimana Asia Tenggara telah lama menjadi ruang interaksi global. Sriwijaya menunjukkan bahwa laut bukanlah batas pemisah, melainkan jalur penghubung yang membentuk identitas kawasan hingga hari ini. Sriwijaya merupakan simbol penting dari peradaban Melayu maritim, yaitu peradaban yang tumbuh dari kekuatan laut, perdagangan internasional, serta jaringan budaya lintas wilayah. Melalui perannya sebagai pusat perdagangan, agama, dan pembelajaran, Sriwijaya meninggalkan jejak besar dalam sejarah dan identitas budaya Melayu di Asia Tenggara. Kerajaan ini mungkin telah runtuh berabad-abad lalu, tetapi pengaruhnya masih terasa dalam budaya, bahasa, dan geopolitik Asia Tenggara modern.

 

Sumber:

Asyhadi Mufsi Sadzali. (2019). “Hulu ke Hilir: Jaringan dan Sistem Perniagaan Sungai Kerajaan Srivijaya”, Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, Vol. 9 (1): 61-82.

Kenneth R. Hall. (1976). Explorations in Early Southeast Asian History: The Origins of Southeast Asian Statecraft, Ann Arbor: University of Michigan Press.

O. W. Wolters. (1962). Early Indonesian Commerce and the Origins of Srivijaya, London: University of London.

Pierre-Yves Manguin. (2020). Southeast Sumatra in Protohistoric and Srivijaya Times: Upstream-Downstream Relations and the Settlement of the Peneplain, Newcastle: Cambridge Scholars Publishing.

Pierre-Yves Manguin. (2021). “Srivijaya: Trade and Connectivity in the Pre-modern Malay World”, Journal of Urban Archaeology, 3: 87–100.

Risa Herdahita Putri. (2017). “Pertukaran Pelajar antara Sriwijaya dan Nalanda”, Historia.id https://www.historia.id/article/pertukaran-pelajar-antara-sriwijaya-dan-nalanda-dnea2, diakses pada Rabu, 11 Maret 2026, Pukul 05.21 WIB.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menelusuri Warisan Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara"

Posting Komentar