Pandangan Tan Malaka tentang Kemerdekaan yang Diperjuangkan Rakyat

Tan Malaka (ilustrasi)
Pemikiran Tan Malaka tentang Indonesia merdeka sudah jauh di konsepnya dalam bentuk tulisan yang berjudul “Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia” yang diterbitkan di Kanton, China 1925. Menurutnya Indonesia harus merdeka dengan kekuatan, keringat dan usaha penuh (mutlak) hasil perjuangan dari rakyat Indonesia itu sendiri, bukan hasil dari pemberian atau perundingan dengan penjajah dan adanya reformasi besar-besaran atas dasar ekonomi mandiri dengan menasionalisasi milik Belanda di Indonesia, baik itu perkebunan maupun pabriknya.

Tan Malaka: Perjalanan Panjang Bapak Republik Indonesia

Tan Malaka merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia yang memiliki pandangan tegas, lugas dan bahkan (dianggap) radikal mengenai arti kemerdekaan. Tan Malaka lahir di Desa Pandam Gadang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Beliau lahir sekitar tahun 1894 atau 1897 dari keluarga sederhana, Ayahnya (HM. Rasad Caniago) seorang buruh tani, dan Ibunya (Rangkayo Sinah Simabur) adalah keturunan seorang tokoh terpandang di desa kelahirannya.

Sejak kecil, Tan Malaka sudah memperihatkan kritisnya namun tetap memiliki kepribadian yang baik, dan pernah bersekolah di sekolah Belanda (Kweekschool) dan belajar bahasa Belanda sejak saat itu. Sejak menyelesaikan sekolah guru di Kweekschool dia kembali ke kampung halamannya dan mendapat gelar adar (Datuk), kemudian melanjutkan pendidikan ke Rotterdam, Belanda. Selama di Eropa ini, Tan Malaka tertarik dengan sejarah dan pemikiran revolusi yang menjadikannya semakin kritis terhadap penjajahan, dan selama di Belanda dan Eropa, Tan Malaka bertemu dan berinteraksi dengan Henk Sneevliet salah seorang tokoh komunis di Belanda.

Setelah menyelesaikan studinya di Belanda, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan mengajar di perkebunan tembakau yang terletak di Desa Sinembah, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli (Deli Serdang), Provinsi Sumatera Timur (Sumatera Utara). Selama disini, Tan Malaka mulai berinteraksi dengan kaum buruh dan tokoh-tokoh adat yang mengalami kemerosotan, dan membuat tulisan di koran (karya pers) yang memberikan pemikiran dan kemerosotan tanah adat yang terjadi dengan judul “Tanah Orang Miskin”. Melihat hal ini, kemudian dia berhenti mengajar dan melakukan perjalanan ke Batavia (Jakarta), serta berkeinginan untuk mendirikan sekolah sendiri di Batavia, melihat hal ini gurunya G.H. Horensma waktu di Kweekschool yang sempat menawarinya mengajar di sekolah lamanta) sangat mendukung keinginan Tan Malaka untuk mendirikan sekolah sendiri.

Sekolah Rakyat Tan Malaka (Ilustrasi)

Keinginannya ini kemudian terealisasikan ketika Tan Malaka bergabung dengan Sarekat Islam (pimpinan Semaun yang berpusat di Semarang) yaitu SI School (Sekolah Sarekat Islam) yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Tan Malaka. Sejak saat inilah, Tan Malaka mulai aktif dalam gerakan PKI hingga kemudian menjadi Ketua PKI setelah Kongres pada tanggal 24-25 Desember 1921 di Semarang. Setelah Tan Malaka menjadi ketua PKI, dia ditangkap Belanda karena dianggap radikal (hal ini kemungkinan konsep pendidikan Tan Malaka yang mencoba melahirkan anak didik mandiri, kritis dan teruntuk anak-anak petani miskin, dimana di kurikulumnya memberikan pelajaran Bahasa Belanda yang pada saat itu hanya diperuntukkan kepada keturunan orang kaya) dan semakin kuatnya pengaruh komunis di pemerintahan Belanda, kemudian Tan Malaka diasingkan ke Belanda. Karena sebelumnya, Tan Malaka sudah berinteraksi dengan tokoh komunis Belanda sewaktu sekolah guru, maka selama pengasingan ini dia aktif dalam gerakan komunis di Belanda. Kemudian, dia melakukan perjalanan ke Jerman dan bertemu dengan Darsono (salah seorang tokoh komunis Indonesia di Eropa Barat).

Setelah itu, Tan Malaka melakukan perjalanan ke Moskow (Uni Soviet) dan kemudian berpartisipasi dalam Komite Eksekutif Komintern atau Internasional Ketiga (semacam kongres atau perhimpunan internasional partai komunis seluruh dunia) pada tahun 1922. Pada kongres ini, Tan Malaka manawarkan adanya kolaborasi komunisme dengan Pan-Islamis, walaupun akhirnya ditolak. Pada Desember 1923, Tan Malaka pergi ke Kanton (Guangzhou, China), selama di sini Tan Malaka terlibat dalam pergerakan komunis dan bertemu dengan tokoh komunis China Sun Yat-sen. Melihat kondisi Indonesia yang semakin tertindas dan kekuatan komunis semakin mengecil di Indonesia karena penindasan Belanda, kemudian Tan Malaka menulis jurnal terkenal berkaitan dengan konsep Republik Indonesia dan kemerdekaannya dengan judul “Naar de Republiek Indonesia” sebagai respon terhadap Belanda yang ingin mengukuhkan kedudukannya di Indonesia. Tulisan ini diterbitkan di Kanton pada April 1925 yang juga berisikan tentang kondisi ekonomi Belanda yang sekamin kritis, dan kekuatan Amerika Serikat yang akan mendominasi Jepang.

Pada Juli 1925, Tan Malaka pindah ke Manila, Filiphina dan kemudian menjadi korespondensi di surat kabar El Debate, disini jurnalnya yang berjudul “Naar de Republiek Indonesia” edisi keduanya terbit (namun sumber lain menyebutkan bahwa tulisan jurnal edisi kedua ini diterbitkan di Tokyo, Kepang) dan beliau juga menuliskan artikel tentang “Semangat Moeda”. Selama tahun 1926-1927, Tan Malaka mulai terlihat berbeda pandangan dengan tokoh PKI seperti Musso yang berkeinginan ingin melakukan pemberontakan secara langsung daripada melakukan gerakan bawah tanah. Walaupun Tan Malaka menjadi perwakilah Komintern untuk Asia Tenggara, namun pada tahun 1927 Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) dan secara perlahan mulai menjauhkan diri dari PKI, bahkan pada akhirnya mulai mengkritiknya dan setelah keluar dari PKI karena perbedaan ideologis, Tan Malaka mendirikan Partai Murba pada tahun 1948, dimana partai ini secara berkelanjutan menolak ide perundingan dan perjanjian Linggarjati dengan Belanda.

Pada tahun 1927, Tan Malaka dideportasi ke Amoy (Xiamen), China karena dianggap sebagai pendatang illegal di wilayah Filiphina, namun hal ini diketahui Belanda karena atas laporan polisi pemukiman yang ada di pelabuhan internasional Kulangsu (Gulangyu), China sehingga Belanda mengejarnya namun akhirnya Tan Malaka berhasil melarikan diri karena kapten kapal yang mengangkutnya melindunginya. Atas arahan inspektur kapal tersebut Tan Malaka akhirnya pergi ke Desa Sionching dan kemudian pergi Shanghai tahun 1929. Kemudian, melakukan perjalanan ke India menggunakan nama samara (China-Filiphina) tahun 1932, namun Tan Malaka tertangkap di Hongkong tahun 1932 (sepulang dari India) kemudian diasingkan ke Amoy (disini Tan Malaka sempat mendirikan Sekolah Bahasa Asing). Kemudian, tahun 1937 Tan Malaka pergi ke Singapura dengan identitas Tionghoa. Setelah kekalahan Belanda atas Jepang Tan Malaka kembali ke Indonesia melalui Penang ke Sumatra kemudian ke Jakarta pada tahun 1942. Kemudian melamar pekerjaan di Badan Kesejahteraan Sosial di Tambang Batubara yang berada di Bayah, Banten (dan masih menggunakan nama samara).

Pemikiran Tan Malaka: Indonesia Merdeka oleh Rakyat

Perjalanan panjang Tan Malaka berakhir ketika kekalahan Jepang atas Amerika Serikat dan sekutu yang kemudian Sukarno-Hatta memprokalamasikan kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Perjalanan panjang ini yang membuat pemikiran keras Tan Malaka dalam menilai kemerdekaan terbentuk. Tan Malaka tidak ingin kemerdekaan itu dicapai dengan diplomasi, perjanjian dan semacamnya, namun ia ingin Indonesia merdeka di atas kaki sendiri dengan perjuangan tanpa pamrih sehingga mencapai kemerdekaan Indonesia secara 100%, makanya Tan Malaka sangat menolak adanya perjanjian Linggarjati tahun 1948 yang sebetulnya sangat merugikan Indonesia.

Jiwa revolusi Tan Malaka menginginkan adanya nasionalisasi atas peninggalan penjajah demi tercapainya ekonomi mandiri bangsa agar tidak bermental loyo apalagi dikasihani. Mental bangsa yang Tan Malaka ingingkan adalah “mental merdeka atas usaha sendiri” tanpa kompromi, hal ini terlihat ketika para pemimpin Persatuan Perjuangan ditangkap di Madiun, dimana hal ini ada kekuatan asing (Inggris-Belanda) dalam melaksanakannya sehingga secara terpaksa harus dilakukan sehingga gerakan ini akhirnya redup. Gerakan ini dibentuk Tan Malaka yang berkinginan “kemerdekaan Indonesia” dicapai secara mutlak tanpa adanya bantuan orang lain melainkan hasil jerih payah bangsa sendiri.

Bedah pemikiran Tan Malaka sejak awal adalah keinginan “merdeka” secara mutlak. Berbeda dengan sebagian tokoh pergerakan lain khususnya pada masa pendudukan Jepang, Tan Malaka menolak gagasan bahwa kemerdekaan Indonesia cukup diperoleh dengan mengambil kesempatan atas kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II terutama setelah Amerika Serikat membom dua kota besar Jepang saat itu (Hiroshima dan Nagasaki) tahun 1945. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan sejati hanya dapat lahir dari perjuangan aktif dan rasa kesadaran seluruh bangsa atau rakyat Indonesia.

Menurut Tan Malaka, kemerdekaan yang tidak diperjuangkan sendiri berisiko menjadi kemerdekaan semu. Jika Indonesia merdeka semata-mata karena Jepang kalah dan kekuasaan kolonial mengalami kekosongan, maka kemerdekaan tersebut tidak memiliki fondasi politik dan moral yang kuat. Bangsa yang merdeka karena “pemberian keadaan” akan mudah digoyahkan, ditekan, bahkan dijajah kembali oleh kekuatan asing yang lebih kuat. Dalam konteks pasca-Perang Dunia II, Tan Malaka secara realistis memandang bahwa Belanda dan Sekutu tidak akan begitu saja menerima kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, Tan Malaka menekankan pentingnya legitimasi kemerdekaan di mata rakyat dan dunia internasional. Kemerdekaan yang diraih melalui perjuangan rakyat akan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia benar-benar mampu menentukan nasibnya sendiri. Sebaliknya, kemerdekaan yang lahir tanpa perlawanan terbuka dan mobilisasi massa berpotensi dianggap sebagai hasil manipulasi politik atau kelanjutan dari kekuasaan kolonial dalam bentuk baru.

Aspek lain yang sangat ditekankan oleh Tan Malaka adalah kesadaran dan militansi rakyat. Tan Malaka berpendapat bahwa perjuangan revolusioner akan membentuk rakyat yang sadar akan hak, kekuatan, dan tanggung jawabnya sebagai bangsa merdeka. Tanpa perjuangan, kemerdekaan hanya akan dinikmati oleh segelintir elite politik, sementara struktur penindasan sosial dan ekonomi tetap bertahan. Dalam pandangan ini, kemerdekaan bukan sekadar pergantian penguasa, melainkan perubahan mendasar dalam kehidupan rakyat.

Pandangan Tan Malaka juga tidak dapat dilepaskan dari latar belakang pemikirannya yang dipengaruhi oleh Marxisme. Tan Malaka melihat kemerdekaan nasional sebagai bagian dari revolusi rakyat yang lebih luas. Oleh karena itu, rakyat harus menjadi subjek utama perjuangan, bukan objek dari dinamika geopolitik global. Kemerdekaan yang diperjuangkan rakyat membuka jalan bagi transformasi sosial yang lebih adil dan mandiri.

Dengan demikian, penolakan Tan Malaka terhadap kemerdekaan yang “menumpang” kekalahan Jepang bukanlah sikap idealistis tanpa dasar, melainkan pandangan strategis dan ideologis. Tan Malaka meyakini bahwa hanya melalui perjuangan penuh rakyatlah Indonesia dapat mencapai kemerdekaan yang kokoh, bermartabat, dan tidak mudah digoyahkan oleh kekuatan kolonial lama maupun kepentingan asing baru. Hal ini terbukti bahwa hasil jerih payah perjuangan di masa lalu malah melahirkan masyarakat bermental “penjajah” atau dependensi yang melahirkan pandangan bahwa kekalahan Jepang atas Amerika Serikat menjadikan Indonesia merdeka. Hal ini mengakibatkan adanya pemikiran bahwa perjuangan bangsa dalam memperoleh kemerdekaan dianggap pasif. Aneh tapi nyata, hal ini mulai kelihatan di dunia nyata khususnya media sosial.

Catatan: Artikel ini muncul sebagai respon atas beberapa penyataan orang tidak bertanggung jawab bahwa “kalau bukan karena Amerika Serikat, Indonesia tidak akan merdeka”, “Kalau tidak ada Amerika, mungkin Indonesia udah hilang dari peta dunia”. Hal ini meningkat ketika Amerika Serikat menjadi poros gobal dan menggunakan kekuatannya secara sepihak diberbagai belahan dunia. Sehiggga menurut saya pribadi, “konsep kemerdekaan ala Tan Malaka sangatlah bijak dan cerdas” dan ketakutan yang dia hindari di masa lalu malah terbukti di masa sekarang.

Sumber:

Tan Malaka. (1948). Gerpolek: Gerilya, Politik dan Ekonomi, Djambatan.
Faisal & Firdaus Syam. (2015). “Tan Malaka: Revolusi Indonesia Masa Kini”, Jurnal Kajian Politik dan Masalah Pembangunan, Vol. 11 (01): 1575-1587.
Tan Malaka (1921). “Parlemen atau Soviet?”, Marxixts.org, https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/Soviet/Pengantar.htm, diakses 20 Januari 2026, Pukul 00.56 WIB.
Martin Sitompul. (2025). Mengakui Tan Malala Sebagai Bapak Republik Indonesia”, Historia, https://www.historia.id/article/mengakui-tan-malaka-sebagai-bapak-republik-indonesia, diakses 20 Januari 2026, Pukul 00.36 WIB.
Wikipedia. “Tan Malaka”, Wikipedia.org, https://id.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka, diakses 20 Januari 2026, Pukul 01.50 WIB.
Bonnie Triyana. (2014). “Sekolah Ala Tan Malaka”, Historia.id, https://www.historia.id/article/https-historia-id-politik-articles-sekolah-ala-tan-malaka-pzlmd#:~:text=Tan%20Malaka%20menilai%20pentingnya%20memberikan,mendengarkan%20langsung%20aspirasi%20wong%20cilik., diakses 20 Januari 2026 Pukul 02.26 WIB.
Putri Safira Pitaloka. (2023). “Tan Malaka: Pemikiran, Perjalanan dan Perannya bagi Indonesia”, Tempo.co, https://www.tempo.co/politik/tan-malaka-pemikiran-perjalanan-dan-perannya-bagi-indonesia-181362, diakses 20 Januari 2026, Pukul 02. 48 WIB.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pandangan Tan Malaka tentang Kemerdekaan yang Diperjuangkan Rakyat"

Posting Komentar