Bencana Sumatera Saat Alam Bereaksi dan Manusia Berperan

Ilustrasi Bencana Sumatera, 2025


Bencana yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera dalam beberapa waktu terakhir kembali menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan antara alam dan manusia. Pertanggal 04 Desember 2025 korban meninggal sudah mencapai 700an lebih. Ketika curah hujan ekstrem mengguyur dan kontur wilayah yang rawan tidak mampu menahan beban, bencana pun tak terhindarkan. Namun, harus diakui, sebagian besar kerentanan ini terbentuk karena ulah manusia sendiri.

Reaksi Alam

Bagaimana reaksi alam? Sumatera adalah pulau dengan karakter geografis yang kompleks: pegunungan, daerah aliran sungai besar, dan wilayah pesisir. Kombinasi ini membuatnya rentan terhadap banjir, longsor, dan banjir bandang, terutama ketika curah hujan bergerak di luar pola normal.

Perubahan iklim global memperburuk situasi. Hujan kini turun lebih deras dan dalam durasi yang lebih singkat. Dalam kondisi seperti ini, alam hanya mengikuti hukum fisika—mengalirkan air sebanyak mungkin ke tempat yang bisa menampungnya.

Aktivitas Manusia

Bagaimana aktivitas manusia dalam bencana ini? Meski faktor alam kuat, bencana tidak akan separah ini tanpa campur tangan manusia. Beberapa kesalahan yang umum terjadi meliputi:

  • Penggundulan hutan dan kerusakan DAS, membuat tanah tidak mampu menyerap air.
  • Pembangunan pemukiman di zona merah, seperti bantaran sungai atau lereng curam.
  • Drainase yang buruk, sering tersumbat sampah maupun sedimentasi.
  • Alih fungsi lahan tanpa perhitungan lingkungan, demi kepentingan industri atau permukiman.

Ketika hujan deras datang, semua kelemahan ini muncul bersamaan dan mempercepat terjadinya bencana.

Keseimbangan Harus Diciptakan

Apa yang harus dilakukan? Bencana barulah menjadi tragedi ketika manusia tidak siap menghadapinya. Karena itu, langkah-langkah berikut penting untuk diterapkan:

Bencana Sumatera adalah refleksi nyata bahwa hubungan kita dengan alam masih belum seimbang. Alam bereaksi sesuai kondisinya, tetapi manusia harus mampu berperan lebih bijak. Selama perilaku terhadap lingkungan tidak berubah, bencana bukan hanya ancaman—tetapi kepastian.

Statistik Bencana Alam Sumatera, 2025


 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bencana Sumatera Saat Alam Bereaksi dan Manusia Berperan"

Posting Komentar