Parada Harahap King of the Java Press dari Tapanuli Bagian Selatan

Nama Parada Harahap mungkin tidak setenar Tirto Adhi Soerjo atau Adinegoro di buku pelajaran sejarah, tetapi di dunia pers awal abad ke-20, dialah sosok yang dijuluki King of the Java Press. Gelar itu bukan datang tiba-tiba. Ia merintis model surat kabar baru—ditulis dalam bahasa Melayu yang netral secara politik dan menyasar kelas menengah Hindia Belanda yang sedang tumbuh. Sebuah terobosan besar di zaman ketika pers masih didominasi bahasa Belanda dan kepentingan kolonial.

Parada Harahap lahir pada 15 Desember 1899 di Pargarutan, Sipirok (Sekarang masuk ke wilayah Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan). Sejak kecil ia sudah rakus (gemar) membaca. Bahan bacaannya datang dari kakaknya di Bukittinggi: koran-koran Melayu dan majalah yang membuat cakrawalanya terbuka jauh melampaui kampung di Tapanuli Selatan. Namun kehidupan tidak langsung membawanya ke dunia jurnalistik. Di usia belasan sekitaran bulan Juli 1914, ia sudah bekerja sebagai leerling schryver di perusahaan perkebunan karet milik Rubber Cultuur Mij Amsterdam di Sungai Karang, Asahan. Berkat kecerdasan dan ingatan kuatnya, ia bahkan dipercaya menggantikan juru buku/tulis berkebangsaan Jerman. Sambil bekerja, ia mengajari dirinya sendiri (belajar otodidak) bahasa Belanda dan terus membaca De Sumatra Post, Benih Merdeka, dan Pewarta Deli—bahan-bahan yang kelak menajamkan naluri jurnalistiknya.

Titik balik terjadi ketika Parada mulai menulis tentang kekejaman poenale sanctie, aturan kolonial yang memungkinkan tuan kebun menghukum kuli-kuli kontrak sesuka hati. Pada 1917–1918 ia sudah membongkar perlakuan tidak manusiawi ini melalui tulisannya. Kritik itu membuat kariernya ambruk—ia dipecat—tapi justru membuka jalan menuju dunia pers.

Setelah kehilangan pekerjaan, Parada pulang ke kampung halamannya dan menjadi wartawan penuh waktu. Ia memimpin Sinar Merdeka dan majalah Poestaha. Selama dua tahun di Padangsidempuan, ia 12 kali tersandung delik pers dan bolak-balik masuk penjara. Namun keberaniannya membuat rakyat bersimpati: demonstrasi pernah pecah menuntut pembebasannya. Ketika kesempatan semakin sempit di Sumatra, Parada memutuskan hijrah ke Jawa pada 1922.

Di Jawa inilah Parada menjelma menjadi raja pers. Ia bekerja di Sin Po, kemudian menjadi redaktur kepala Neratja, media terbesar saat itu. Tak lama, ia menerbitkan Bintang Hindia dari tabungannya sendiri—awal dari kerajaan medianya. Bersama percetakan De Unie, Parada melahirkan sederet surat kabar: Bintang Timur, Sinar Pasundan, Semangat, hingga De Volks Courant. Bintang Timur menjadi andalan, terutama karena memuat tulisan-tulisan Dr. Rivai dari Eropa, membuat pembacanya merasa terhubung dengan dunia internasional.

Pada periode ini ia juga memakai nama samaran yang unik: Oom Baron Matturepeck, yang dalam bahasa Batak berarti “suara dari kertas”—sebuah metafora tepat untuk seorang yang percaya bahwa tulisan adalah alat pembebasan.

Namun seperti kisah banyak pengusaha pers pada masa awal, kejayaan itu rapuh. Parada dinilai lemah dalam manajemen finansial. Pada 1935 ia bangkrut, terlilit utang besar. Alih-alih menyerah, ia menerbitkan Tjaja Timoer, koran kecil yang ia kerjakan nyaris sendirian: mencari berita, menulis, menyusun huruf, mencetak, hingga menjual. Kerajaannya benar-benar tumbang ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942 dan memaksa seluruh media berhenti terbit. Selama pendudukan, Parada dipercaya memimpin surat kabar Sinar Baroe.

Menjelang kemerdekaan, perannya kembali mencuat. Ia menjadi satu-satunya tokoh Batak dalam keanggotaan BPUPKI, lembaga yang merumuskan dasar negara. Setelah Indonesia merdeka, Parada mengabdi di Departemen Penerangan, dan warisan pentingnya adalah gagasan membuat press room di DPR RIS—ruang resmi bagi wartawan mengikuti jalannya parlemen. Konsep yang ia rintis itu kini menjadi fasilitas standar di seluruh lembaga negara.

Di masa senjanya, Parada memilih menjadi pendidik. Ia ikut mendirikan Akademi Wartawan di Jakarta, mengajar generasi muda tentang etika dan peran pers dalam masyarakat. Karya-karyanya tersebar luas: mulai dari Roos van Batavia (1924), Journalistiek (1924), hingga Kedudukan Pers dalam Masjarakat (1951). Ia wafat pada 11 Mei 1959—tepat setelah mengajar—seolah hidupnya memang ditutup di ruang yang paling ia cintai: ruang berbagi ilmu.

Warisan Parada Harahap jauh melampaui puluhan media yang pernah ia dirikan. Ia adalah simbol bagaimana keberanian menulis bisa membela mereka yang paling lemah—para kuli, para bumiputra, para pembaca yang haus keadilan. Ia adalah bukti bahwa seorang autodidak dari Asahan bisa mengguncang struktur kolonial hanya dengan pena dan keyakinan bahwa kebenaran layak diperjuangkan.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Parada Harahap King of the Java Press dari Tapanuli Bagian Selatan"

Posting Komentar