Mau Kuliah? Pikirkanlah Hal Ini Sebelum Memutuskan

Mau Kuliah? Pahami Terlebih Dahulu Sebelum Salah Lanhkah

Mau Kuliah? Mari Pahami Terlebih Dahulu

Sejak dulu, manusia tidak ingin keluarganya tetap berada di kelas ekonomi yang begitu-begitu saja, setidaknya satu dari lima keluarga menginginkan keberhasilan diraih dengan cara apapun dan dengan langkah apapun. Jika dahulu, manusia bergantung pada kemampuan (skill) tertentu dalam mendapatkan pekerjaan, maka di zaman modern sekarang ini diberikan pilihan tentang tingkat pendidikan.

Perkembangan zaman semakin hari semakin maju dan kriteria pekerjaan semakin kompleks. Bagi banyak siswa SMA sederajat atau calon mahasiswa, kuliah sering dianggap sebagai jalan utama menuju pekerjaan yang baik dan kehidupan yang lebih mapan. Orang tua pun kerap menanamkan keyakinan bahwa “kalau mau sukses, ya harus kuliah.” Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Realitas kehidupan setelah lulus jauh lebih kompleks daripada sekadar punya ijazah.

Sebelum memutuskan untuk kuliah, ada dua hal penting yang perlu dipahami agar tidak salah berharap dan tidak salah langkah. Hal ini berkaitan dengan kuliah tidak menjamin kesuksesan secara spontan (instan), dan kuliah sebagai wadah pengambangan diri dalam mencapai kedewasaan berpikir.

Kuliah Tidak Menjamin Langsung Dapat Pekerjaan

Masih banyak orang yang berpikir bahwa setelah lulus kuliah, pekerjaan akan datang dengan sendirinya. Faktanya, di zaman sekarang, lulusan perguruan tinggi semakin banyak, sementara lapangan pekerjaan tidak bertambah secepat itu. Akibatnya, banyak sarjana yang menganggur atau bekerja tidak sesuai dengan jurusannya.

Melansir data BPS tahun 2025, di Indonesia jumlah pengangguran di dominasi tiga tingkatan pendidikan, yaitu SMA/SMKA/MA Kejuruan sebanyak 8,63%, SMA/SMK/MA Umum sebanyak 6,88%, dan Sarjana (Universitas) sebanyak 5,39%. Melansir data.goodstats.id, bahwa jumlah pengangguran dari perguruan tinggi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan di tahun 2025 jumlah sarjana pengangguran mencapai 1.010.652 jiwa. Sedangkan jumlah lulusan sarjana pertahun 2025 mencapai 1,85 juta jiwa (CNBCIndonesia.com).

Melihat data ini skilas sedikit apabila hanya sebatas statistic, namun yang menjadi permasalahan dan tanda tanya adalah apakah dengan tingkat pendidikan menjamin seseorang akan sukses alias bekerja? Hal ini belum berbicara terkait dengan tingkat kepantasan antara lulusan dengan ketenagakerjaan yang ada. Artinya lulusan sarjana belum tentu kerja di dalam kantor atau mempunyai penghasilan bagus dalam gaji bulanan, bahkan banyak lulusan sarjana terpaksa kerja dimanapun asalkan tidak menganggur alias gaji yang diperoleh tidak peduli sesuai harapan atau tidak.

Lebih ironis lagi, dalam beberapa kondisi, orang yang tidak kuliah justru terlihat lebih “berhasil” secara ekonomi. Hal ini sering terjadi bukan karena mereka lebih pintar, tetapi karena mereka memiliki orang dalam (keluarga yang punya usaha, kenalan di instansi tertentu, atau modal uang untuk memulai bisnis), hal ini sudah menjadi rahasia umum. Realitas ini menunjukkan bahwa dunia kerja tidak selalu berjalan adil. Kesempatan sering kali dipengaruhi oleh relasi dan modal, bukan hanya soal tingkat pendidikan dan kemampuan yang dimiliki (skill).

Namun, ini bukan berarti kuliah tidak ada gunanya. Artinya, kuliah bukan jaminan otomatis untuk mendapatkan pekerjaan. Ijazah hanyalah satu syarat administratif. Dunia kerja sekarang lebih menghargai keterampilan nyata, pengalaman, sikap kerja, dan kemampuan beradaptasi. Tanpa itu, ijazah bisa kehilangan “daya jual”-nya.

Kuliah Bisa Membentuk Kedewasaan Berpikir

Walaupun tidak menjamin pekerjaan alias sukses instan, kuliah memiliki nilai penting yang sering tidak disadari yaitu “membentuk cara berpikir yang lebih dewasa dan kritis”. Di bangku kuliah, seseorang tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar memahami sudut pandang yang berbeda, berdiskusi, mengkritisi informasi, dan melihat masalah dari berbagai sisi. Hal ini penting karena menurut Ahmad Taufiq, hal ini yang membedakan tingkat pendidikan menangah atas (siswa) dengan perguruan tinggi (mahasiswa). Apalagi ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dianggap hanya sebatas nilai privilege atau hanya sebatas gaya-gayaan saja.

Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, kuliah bisa membantu seseorang lebih peka terhadap realitas sosial, lebih rasional dalam mengambil keputusan, tidak mudah percaya hoaks atau opini tanpa dasar, dan lebih mampu menganalisis masalah hidup secara logis. Namun, kedewasaan berpikir ini tidak datang otomatis. Kuliah hanya menjadi sarana. Tanpa kemauan untuk berkembang, seseorang bisa saja lulus kuliah tetapi pola pikirnya tidak banyak berubah. Jadi, yang menentukan manfaat kuliah bukan hanya kampus atau jurusannya, melainkan juga niat pribadi untuk bertumbuh.

Kuliah Itu Alat, Bukan Jaminan Hidup Sukses

Kuliah bukanlah tiket pasti menuju kesuksesan, tetapi juga bukan sesuatu yang sia-sia. Kuliah adalah alat untuk mengembangkan diri—baik secara pengetahuan, cara berpikir, maupun relasi. Jika tujuan kuliah hanya untuk “biar dapat kerja”, maka kekecewaan sangat mungkin terjadi. Namun, jika kuliah dipahami sebagai proses membangun kapasitas diri, maka nilainya akan terasa jauh lebih besar.

Keputusan untuk kuliah seharusnya diambil dengan kesadaran penuh yaitu paham manfaatnya, paham risikonya, dan paham bahwa keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Good luck! Semoga semakin sukses buat kita semua.


Sumber:

Izzul Wafa. (2025). “Jumlah Pengangguran Sarjana (Diploma IV, S1, S2, S3) di Indonesia”, data.goodstats.id, https://data.goodstats.id/statistic/ironi-angka-sarjana-menganggur-kian-naik-A34dR, diakses 01 Februari 2026, Pukul 01.30 WIB.

Emanuella Bungasmara Ega Tirta. (2025). "Banyak Sarjana Menganggur, Gelar & Ijazah Tak Bisa Lagi Jadi Senjata" cnbcindonesia.com, https://www.cnbcindonesia.com/research/20250501113031-128-630195/banyak-sarjana-menganggur-gelar-ijazah-tak-bisa-lagi-jadi-senjata, diakses 01 Februari 2026, Pukul 01.31 WIB.

Susi Setiawati. (2025). "Gen Z & Lulusan Sarjana Pusing Nyari Kerja, Salah Siapa?" cnbcindonesia.com, https://www.cnbcindonesia.com/research/20250604133428-128-638522/gen-z-lulusan-sarjana-pusing-nyari-kerja-salah-siapa, diakses 01 Februari 2026, Pukul 01.31 WIB.

Ahmad Taufiq. (2018). “Paradigma Baru Pendidikan Tinggi dan Makna Kuliah Bagi Mahasiswa”, ADANI Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan Vol 10 No. 1 2018 (https://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/MADANI/article/view/938)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mau Kuliah? Pikirkanlah Hal Ini Sebelum Memutuskan"

Posting Komentar