Abdul Hakim Harahap: Tokoh Multisektoral Asal Tapanuli di Masa Transisi

Abdul Hakim Harahap
(Sumber: id.wikipedia.org / modifikasi)

Abdul Hakim Harahap: Tokoh Multisektoral Asal Tapanuli di Masa Transisi

"Abdul Hakim Harahap dikenal cakap dalam berbagai hal mulai dari seorang politikus, diplomat, gubernur, tokoh olahraga, dan pelopor pendidikan tinggi Sumatera Utara".

***

Abdul Hakim Harahap lahir pada 15 Juli 1905 di Sarolangun, Jambi, Hindia Belanda. Ia berasal dari keluarga Angkola Mandailing, salah satu kelompok atau sub etnik Batak Muslim yang dikenal memiliki tradisi pendidikan, perdagangan, dan mobilitas sosial yang kuat. Latar belakang ini membentuk identitas Abdul Hakim Harahap sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung pendidikan, agama Islam, dan keterbukaan terhadap dunia modern. Ayahnya bernama Mangaradja Gading seorang pegawai negeri sipil yang berasal dari Sosopan (sekarang masuk wilayah Kabupaten Padang Lawas). Sebagai bagian dari generasi awal abad ke-20, Abdul Hakim hidup pada masa ketika banyak anak muda bumiputra mulai mendapat akses pendidikan modern dan mulai memikirkan gagasan kebangsaan. Lingkungan sosial dan sejarah yang sedang berubah ini berpengaruh besar terhadap jalan hidupnya.

Pendidikan

Walaupun data rinci mengenai seluruh jenjang pendidikannya tidak terlalu lengkap, Abdul Hakim Harahap diketahui memperoleh pendidikan model kolonial yang cukup baik untuk zamannya. Pendidikan tersebut memberinya bekal administrasi, kemampuan organisasi, dan wawasan modern yang kelak berguna dalam birokrasi dan politik. Namun, Abdul Hakim mahir dalam berbahasa asing, khususnya dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Prancis.

Abdul Hakim Harahap memulai pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), Jambi sebuah lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar (sekolah Eropa) pada tahun 1914. Kemudian, terpaksa pindah sekolah karena ayahnya dipindah tugaskan ke Sibolga kemudian lulus pada tahun 1920, dan melanjutkan pendidikan ke tinggkat menengah di sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (secara harfiah berarti Pendidikan Dasar Ekstensif, setara dengan Sekolah Menengah Pertama), dan lulus pada tahun 1924. Ia melanjutkan pendidikan di Prins Hendrikschool (Sekolah Pangeran Hendrik, sekolah menengah ekonomi) sampai pada tahun 1926.

Sepanjang melanjutkan pendidikan ini, Abdul Hakim Harahap terlibat aktif dalam gerakan-gerakan nasionalis di Hindia Belanda, seperti Jong Islamieten Bond (Persatuan Muda Islam), Jong Batak (Batak Muda) dan Jong Sumatranen Bond (Persatuan Sumatera Muda). Hal ini yang menjadikan beliau semakin cakap dalam berbagai hal, mulai dari diplomasi, pergerakan, dunia aktifis dan pemerintahan. Kemampuan Abdul Hakim dalam berbagai bidang menjadikannya sebagai tokoh penting dalam masa transisi pemerintahan Indonesia mulai dari pra kemerdekaan dan setelah kemerdekaan Indonesia. Kombinasi ini membuatnya relatif mudah bergerak lintas jaringan sosial yang pada masa itu sering terpisah menurut etnis atau agama.

Karir dan Kiprah Politik Nasional

Saat muda, Abdul Hakim aktif dalam berbagai organisasi yang sangat penting dalam sejarah pergerakan nasional, seperti Jong Islamieten Bond, Jong Batak Bond, dan Jong Sumatranen Bond. Melalui organisasi-organisasi ini, ia berinteraksi dengan banyak tokoh muda terdidik dari berbagai daerah. Aktivisme tersebut membentuk dirinya menjadi bagian dari generasi yang mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai orang Angkola Mandailing, Batak, atau Sumatra, tetapi juga sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang sedang diperjuangkan. Keterlibatannya di organisasi Islam modernis juga membentuk orientasi politiknya yang dekat dengan pemikiran Islam rasional, pendidikan, dan pembangunan masyarakat.

Sebelum aktif penuh dalam politik nasional, Abdul Hakim Harahap pernah bekerja di bidang administrasi pemerintahan dan urusan ekonomi, termasuk perdagangan dan pabean (bea cukai). Pengalaman ini memberinya pemahaman tentang bagaimana sistem administrasi, keuangan, dan ekonomi dijalankan. Hal ini cukup penting karena banyak politisi pada zamannya kuat secara ideologi, tetapi tidak semua memiliki pengalaman teknis pemerintahan. Abdul Hakim Harahap justru memiliki kombinasi keduanya yaitu: pengalaman organisatoris dan kemampuan administratif.

Setelah Indonesia merdeka, Abdul Hakim Harahap semakin aktif dalam politik melalui Masyumi, partai Islam terbesar pada masa demokrasi parlementer Indonesia. Karier politiknya berkembang pesat hingga ia dipercaya menduduki jabatan-jabatan tinggi negara. Ia pernah menjadi Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia dalam kabinet Abdul Halim pada 1950. Posisi ini menempatkannya di lingkaran inti pemerintahan nasional pada masa Indonesia baru beberapa tahun merdeka. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara, yang menunjukkan bahwa ia termasuk tokoh politik nasional yang cukup diperhitungkan.

Tidak banyak yang tahu bahwa Abdul Hakim juga pernah menjalankan peran diplomatik. Pada 1950, ia diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Pakistan. Sebagai diplomat pada masa awal republik, tugasnya bukan sekadar formalitas. Indonesia saat itu masih memperkuat posisi internasionalnya sebagai negara baru merdeka. Kehadirannya di Pakistan menunjukkan kepercayaan pemerintah pusat terhadap kapasitas diplomasi dan jaringan politiknya.

Salah satu jabatan yang paling dikenang dari Abdul Hakim Harahap adalah ketika ia menjadi Gubernur Sumatera Utara pada 1951–1953. Ia memimpin Sumatera Utara pada masa yang sangat sulit. Indonesia baru saja melewati revolusi kemerdekaan, sehingga pemerintahan daerah masih dalam tahap penataan ulang. Sebagai gubernur, ia menghadapi tantangan berupa:

  • pembentukan birokrasi daerah,
  • stabilitas keamanan,
  • pembangunan fasilitas publik,
  • serta pengelolaan hubungan pusat dan daerah.

Pada masa pemerintahannya pula muncul ketegangan serius terkait status Aceh yang saat itu berada di bawah administrasi Sumatera Utara. Persoalan ini kemudian berkembang menjadi konflik politik yang lebih besar pada awal 1950-an.

Pelopor Pendirian Universitas Sumatera Utara

Salah satu warisan terpenting Abdul Hakim Harahap adalah kontribusinya dalam pendirian University of North Sumatra (USU). Pada 1952, ia menjadi Ketua Yayasan Universitet Sumatera Utara, lembaga yang menjadi motor pendirian universitas tersebut. Dalam kapasitas ini, ia membantu:

  • menggalang dukungan masyarakat,
  • menghubungkan pemerintah daerah dengan kalangan akademik,
  • dan memberi dukungan politik bagi berdirinya universitas.

USU kemudian tumbuh menjadi salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia. Perannya dalam sejarah ini membuat namanya diabadikan dalam fasilitas kampus, termasuk Aula Abdul Hakim. Kontribusinya terhadap kesehatan terutama terlihat melalui dukungannya pada pembentukan Fakultas Kedokteran USU. Dengan adanya fakultas ini, Sumatera Utara memperoleh pusat pendidikan dokter yang sangat penting di luar Pulau Jawa. Langkah ini memberi dampak jangka panjang pada pembangunan sumber daya kesehatan regional.

Mahasiswa Angkatan Pertama Fakultas Kedokteran USU, 1953
(Sumber: https://fk.usu.ac.id/id/)

Kecintaan pada Olahraga dan Sepak Bola

Abdul Hakim Harahap juga dikenal aktif dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola. Saat muda, ia bermain sepak bola dan mendirikan Sahata FC di Medan. Keterlibatannya tidak berhenti sebagai pemain. Saat menjadi gubernur, ia juga mendukung pembangunan fasilitas olahraga (Stadion Teladan) dan perkembangan sepak bola daerah. Ini menunjukkan bahwa ia memandang olahraga sebagai bagian dari pembangunan masyarakat dan pembentukan karakter bangsa. Hubungannya dengan sepak bola turut menempatkannya dalam sejarah awal perkembangan olahraga modern di Medan.

Karier Legislatif dan Masa Akhir

Selain jabatan eksekutif dan diplomatik, Abdul Hakim Harahap juga pernah menjadi anggota DPR. Peran ini menunjukkan bahwa pengaruh politiknya tetap berlanjut setelah masa jabatannya sebagai gubernur. Pada masa tuanya, ia dikenal sebagai salah satu tokoh senior generasi awal republik yang memiliki pengalaman luas di berbagai bidang mulai dari peran penting dalam pemerintahan, politik, diplomasi, pendidikan, dan olahraga. Bahkan dalam karir pemerintahannya sering dipindah tugaskan untuk menjadi pelopor penting dalam pemerintahan sejak zaman Belanda, Jepang hingga masa transisi pemerintahan Indonesia.

Sepanjang karirnya yang sangat gemilang, Abdul Hakim Harahap kemudian menutup usia pada tahun 1961 di Jakarta. Abdul Hakim Harahap meninggalkan warisan yang cukup luas. Ia bukan hanya seorang gubernur, melainkan figur yang berperan dalam banyak bidang penting:

  • politik nasional,
  • diplomasi internasional,
  • pembangunan pemerintahan daerah,
  • pendidikan tinggi,
  • kesehatan,
  • dan olahraga.

Dalam satu kehidupan, ia pernah menjadi aktivis pemuda, pemain sepak bola, politisi nasional, Wakil Perdana Menteri, Menteri Negara, diplomat, gubernur, anggota parlemen, sekaligus pelopor pendirian universitas. Walaupun namanya tidak selalu muncul dalam sejarah populer Indonesia, jejak Abdul Hakim Harahap sangat kuat dalam sejarah Sumatera Utara dan pembentukan negara Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Ia dapat dikenang sebagai salah satu tokoh republik awal yang bekerja di banyak bidang untuk membangun fondasi bangsa.

 

Sumber:

Amri Amir, M. Jusuf Hanfiah, dan M.P. Siregar. (2024). In Memoriam: Abdul Hakim Harahap Gubernur Sumatera Utara 1950-1953, Medan: USU Press.

Wikipedia. “Abdul Hakim Harahap”, id.wikipedia.org, https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hakim_Harahap, diakses pada 30 April 2026.

Akhir Matua Harahap. (2014). “Abdul Hakim (Harahap), Gubernur Sumatra Utara dan Menteri Pertahanan: Anak Kedua Mangaradja Gading di Padang Sidempuan”, akhirmh.blogspot.com, https://akhirmh.blogspot.com/2014/11/abdul-hakim-harahap-gubernur-sumatra.html, diakses pada 30 April 2026.

 

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Abdul Hakim Harahap: Tokoh Multisektoral Asal Tapanuli di Masa Transisi"

Posting Komentar