Sriwijaya: Imperium Maritim Asia Tenggara (Abad ke-7–13 Masehi)

 

Kerajaan Sriwijaya (Ilustrasi)

Ketika jalur laut antara India dan Tiongkok menjadi pusat perdagangan dunia pada abad ke-7 Masehi, muncul sebuah kekuatan besar di Nusantara: Kerajaan Sriwijaya. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan daratan yang mengandalkan penguasaan wilayah luas, Sriwijaya membangun kekuasaannya di atas kendali lautan, pelabuhan, dan jalur perdagangan strategis. Inilah sebabnya Sriwijaya lebih tepat dipahami sebagai imperium maritim.

Kerajaan Sriwijaya bertransformasi dari kekuatan berbasis invasi militer (abad ke-7 M) menjadi pusat perdagangan maritim internasional terbesar di Asia Tenggara (abad ke-8—10 M). Peralihan ini terjadi dengan menggunakan armada laut yang kuat untuk menguasai jalur strategis, seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, serta mewajibkan kapal asing berlabuh dan membayar pajak".

Selama hampir enam abad, Sriwijaya memainkan peran kunci dalam lalu lintas perdagangan internasional Asia. Pengaruhnya menjangkau India di barat dan Tiongkok di utara, menjadikannya salah satu kekuatan terbesar yang pernah muncul di Asia Tenggara pra-modern.

Awal Berdiri: Dapunta Hyang Sri Jayanasa

Sejarawan umumnya sepakat bahwa pendiri Kerajaan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang memulai ekspansi kekuasaan sekitar tahun 671–702 Masehi. Bukti tertua mengenai kemunculan Sriwijaya terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit (683 M), yang mencatat perjalanan suci sekaligus ekspedisi politik-militer dari pusat kekuasaan di sekitar Palembang, kawasan Sungai Musi.

Dari pusat inilah Sriwijaya membangun jaringan pelabuhan dan pangkalan maritim yang kemudian menjadi fondasi hegemoni regionalnya.

Sistem Kekuasaan: Mandala Maritim

Sriwijaya tidak membangun negara teritorial dengan batas-batas administratif kaku. Kekuasaan Sriwijaya beroperasi melalui sistem mandala, yakni jaringan pusat-pusat pelabuhan yang terhubung oleh relasi loyalitas, perlindungan armada laut, dan kepentingan perdagangan.

Wilayah pengaruh Sriwijaya mencakup:

  • Sumatra (sebagai inti kekuasaan),
  • Kedah dan Semenanjung Malaya,
  • pesisir Thailand selatan,
  • hingga Jawa bagian barat.

Namun, pengaruh ini tidak berarti pendudukan langsung atas seluruh wilayah daratan. Sriwijaya mengontrol titik-titik kunci perdagangan laut, bukan mengadministrasikan wilayah pedalaman. Dengan menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda, Sriwijaya memegang urat nadi ekonomi Asia Tenggara.

Karena itu, Sriwijaya lebih tepat dipahami sebagai jaringan hegemoni maritim, bukan kerajaan teritorial seperti negara modern.

Aliansi Politik Lintas Selat

Kekuatan Sriwijaya tidak hanya dibangun melalui armada laut, tetapi juga melalui diplomasi dan aliansi dinasti. Hubungan perkawinan politik antara penguasa Sriwijaya dengan Dinasti Śailendra di Jawa Tengah mencerminkan aliansi strategis lintas Selat Sunda antara Sumatra dan Jawa.

Aliansi ini memperkuat posisi Sriwijaya dalam mengontrol jalur perdagangan regional sekaligus menstabilkan relasi politik antara dua pusat kekuatan utama Nusantara abad ke-8–9.

Apakah Sriwijaya Menguasai Seluruh Asia Tenggara?

Klaim bahwa Sriwijaya “menguasai seluruh Asia Tenggara” perlu diluruskan. Sriwijaya tidak pernah menaklukkan Asia Tenggara secara teritorial. Kerajaan-kerajaan besar di daratan seperti Champa (Vietnam) dan Angkor (Kamboja) tidak berada di bawah kekuasaan administratif Sriwijaya.

Namun, Sriwijaya berhasil mendominasi jalur perdagangan laut strategis Asia Tenggara Barat (sehingga mampu mengontrol seluruh Asia Tenggara bahkan India dan China melalui jaringan perdagangan), terutama Selat Malaka dan Selat Sunda. Dominasi atas jalur ini membuat kerajaan-kerajaan pesisir lain bergantung pada jaringan maritim Sriwijaya. Inilah bentuk kekuasaan tidak langsung—hegemoni ekonomi dan maritim—yang sering disalahpahami sebagai “penguasaan wilayah/daratan.”

Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca Maritim

Sebagai kekuatan maritim, Sriwijaya membutuhkan bahasa penghubung antarbangsa. Di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya, bahasa Melayu berkembang sebagai lingua franca perdagangan maritim Asia Tenggara.

Penyebaran bahasa Melayu tidak terjadi karena penaklukan militer, melainkan karena kebutuhan praktis perdagangan. Pedagang dari Nusantara, India, Arab, dan Tiongkok menggunakan bahasa Melayu sebagai medium komunikasi. Sriwijaya mempercepat penyebaran bahasa ini melalui jaringannya, sementara pada abad-abad berikutnya, jaringan kesultanan Islam pesisir melembagakannya lebih luas.

Komoditas utama dalam perdagangan Sriwijaya meliputi: kapur barus, cendana, emas, timah, dan rempah-rempah.

Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan dan Penyebaran Agama Buddha

Sriwijaya juga memainkan peran penting sebagai pusat pendidikan Buddhisme Mahayana di Asia Tenggara. Biksu Tiongkok I-Tsing (Yijing) mencatat bahwa Sriwijaya merupakan tempat ideal untuk mempelajari bahasa Sanskerta dan ajaran Buddha sebelum melanjutkan studi ke pusat pendidikan besar di India, yaitu Nalanda.

Hubungan intelektual ini diperkuat oleh patronase raja Sriwijaya, khususnya Balaputradewa, yang mendanai pendirian asrama pelajar Nusantara di Nalanda. Fakta ini menunjukkan bahwa Sriwijaya terintegrasi dalam jaringan pendidikan transregional: India–Asia Tenggara–Tiongkok.

Dengan demikian, Sriwijaya memadukan hegemoni maritim dengan soft power keagamaan dan intelektual, menjadikannya pusat perdagangan sekaligus pusat produksi dan distribusi pengetahuan.

Kemunduran Sriwijaya

Memasuki akhir abad ke-11, hegemoni Sriwijaya mulai melemah. Salah satu faktor penting adalah serangan armada Rajendra Chola I dari India Selatan pada tahun 1025 M, yang mengguncang pusat-pusat pelabuhan Sriwijaya dan merusak jaringan maritimnya.

Selain faktor militer, perubahan rute perdagangan internasional dan munculnya kekuatan-kekuatan baru di Asia Tenggara turut mempercepat kemunduran Sriwijaya. Pada abad ke-13, Sriwijaya tidak lagi tampil sebagai kekuatan dominan di kawasan.

Sriwijaya dalam Perspektif Sejarah Asia Tenggara

Sriwijaya menunjukkan bahwa kebesaran sebuah kerajaan tidak selalu ditentukan oleh luas wilayah daratannya. Kekuatannya terletak pada penguasaan lautan, jaringan perdagangan, patronase keagamaan, dan produksi pengetahuan. Selama hampir enam abad, Sriwijaya menjadi simpul utama peradaban maritim Asia Tenggara—sebuah imperium laut yang pengaruhnya melampaui batas-batas Nusantara.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sriwijaya: Imperium Maritim Asia Tenggara (Abad ke-7–13 Masehi)"

Posting Komentar