The Great Irish Famine 1845-1852: Sejarah Hubungan Ottoman dan Irlandia

Sejarah yang terlupakan begitu saja, namun akan tetap membekas ketika mengetahui sejarah yang penuh hikmah ini. Mungkin banyak diantara kita yang belum tau sejarah ini atau mungkin sudah tau namun belum detail dalam gambarannya, yaitu tentang sejarah Utsmaniyah dan Irlandia di masa lalu, tragedi ini dikenal dengan sebutan The Great Irish Famine, atau An Gorta Mór dalam bahasa Irlandia.
Ilustrasi Tragedi Kelaparan Irlandia

The Great Irish Famine, atau An Gorta Mór dalam bahasa Irlandia, merupakan peristiwa kelaparan besar yang melanda Irlandia antara tahun 1845 hingga 1852. Tragedi ini bermula dari ketergantungan masyarakat Irlandia terhadap kentang sebagai sumber makanan utama. Bagi sebagian besar rakyat miskin Irlandia pada masa itu, kentang adalah bahan pangan murah, bergizi, dan mudah ditanam di lahan kecil. Namun, ketergantungan tunggal terhadap satu jenis tanaman inilah yang kemudian menjadi penyebab utama bencana besar ketika wabah penyakit tanaman melanda. Pada tahun 1845, penyakit tanaman yang dikenal sebagai Phytophthora infestans menyerang ladang-ladang kentang di seluruh Irlandia. Penyakit ini menyebabkan busuknya tanaman secara cepat, menghancurkan sebagian besar hasil panen hanya dalam hitungan minggu. Akibatnya, pasokan makanan berkurang drastis dan jutaan penduduk tidak memiliki sumber makanan alternatif. Wabah ini terus berulang selama beberapa tahun, memperparah situasi sosial dan ekonomi negara. Menurut Mark G. McGowan, kemungkinan penyakit ini dibawa oleh kapal para pedagang yang berasal dari benua Amerika.

Kelaparan yang terjadi tidak hanya mengakibatkan penderitaan fisik, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang luas. Banyak keluarga kehilangan rumah, tanah, dan sumber penghasilan mereka. Sementara itu, sistem kepemilikan tanah yang dikuasai tuan tanah Inggris membuat rakyat Irlandia semakin terpinggirkan. Banyak petani diusir dari lahan karena tidak mampu membayar sewa, sehingga gelombang pengungsian besar-besaran pun terjadi.

Pemerintah Inggris yang saat itu berkuasa di Irlandia mendapat kritik keras karena dianggap lamban dan tidak peka dalam menanggapi krisis yang sedang terjadi. Kebijakan bantuan yang diterapkan sering kali tidak efektif dan lebih menguntungkan pihak tuan tanah daripada rakyat miskin. Program workhouse (rumah kerja) yang dimaksudkan sebagai bantuan justru menambah penderitaan, karena kondisi di tempat tersebut sangat buruk dan tidak manusiawi.
Antara tahun 1846 hingga 1852, jutaan orang Irlandia terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar bermigrasi ke Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Perjalanan melintasi Atlantik dilakukan dengan kapal yang dikenal sebagai coffin ships (kapal peti mati) karena banyak penumpang meninggal dunia akibat penyakit dan kelaparan selama pelayaran. Migrasi besar ini kemudian membentuk komunitas diaspora Irlandia di berbagai belahan dunia.

Menurut Christine Kinealy dalam kutipan M. Yamac mengatakan:

Hampir 4.000 kapal mengangkut bahan pangan dari Irlandia menuju pelabuhan Bristol dan Glasgow. Pada tahun 1847, sekitar 400.000 pria, wanita, dan anak-anak Irlandia meninggal akibat kelaparan dan penyakit yang menyertainya. Ironisnya, bahan pangan tersebut dikirim dari wilayah-wilayah Irlandia yang paling parah dilanda kelaparan, bahkan di bawah pengawasan militer.

Penyebab kematian massal tersebut, diduga bukan karena kelaparan parah melainkan karena tekanan politik yang sangat menyedihkan, apalagi populasi Irlandia pada saat itu hampir 80% beragama Katolik berbeda dengan Britania Raya (Inggris) yang beragama Protestan. Padahal pada kondisi ketika itu, keuangan Britania Raya (Inggris) tidak diragukan lagi mampu dalam meminimalisir tragedi tersebut dengan baik.

Akibat kelaparan dan migrasi, populasi Irlandia menurun secara drastis. Sebelum bencana, jumlah penduduk mencapai sekitar 8 juta jiwa, namun setelahnya berkurang hingga hampir separuhnya. Penurunan ini berdampak panjang terhadap struktur sosial, budaya, dan ekonomi Irlandia. Banyak daerah pedesaan menjadi kosong, sementara budaya tradisional dan bahasa Irlandia mengalami kemunduran karena banyak generasi muda yang meninggalkan tanah air.

The Great Irish Famine tidak hanya meninggalkan luka sejarah, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dan ketahanan rakyat Irlandia serta kolonialisme. Peristiwa ini membuka mata dunia tentang pentingnya diversifikasi pangan, keadilan sosial, serta tanggung jawab moral pemerintah dalam menghadapi krisis kemanusiaan. Tragedi tersebut juga memperkuat semangat nasionalisme Irlandia, yang kemudian berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan dari Inggris pada abad ke-20.

Hingga saat ini, Irlandia dan komunitas diaspora di seluruh dunia masih memperingati The Great Famine sebagai bagian penting dari sejarah nasional. Monumen, museum, dan acara tahunan didedikasikan untuk mengenang jutaan korban yang kehilangan nyawa. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa ketidakadilan, kemiskinan, kolonialisme dan ketergantungan ekonomi dapat membawa dampak yang menghancurkan jika tidak diatasi dengan kebijakan yang adil dan manusiawi.

Bagaimana peran Islam melalui Ottoman dalam krisis kemanusiaan/ kelaparan yang terjadi di Irlandia pada saat itu? Di tengah penderitaan rakyat Irlandia akibat kelaparan besar, perhatian dunia internasional mulai tertuju pada tragedi kemanusiaan tersebut. Salah satu pihak yang menunjukkan kepedulian nyata adalah Kesultanan Utsmaniyah di bawah pemerintahan Sultan Abdülmecid I. Menurut berbagai catatan sejarah, Sultan Abdülmecid berkeinginan mengirim bantuan sebesar £10.000 untuk meringankan penderitaan rakyat Irlandia. Namun, karena tekanan diplomatik dari pihak Inggris—yang menganggap jumlah itu terlalu besar dibandingkan sumbangan Ratu Victoria sebesar £2.000—Sultan akhirnya menurunkan bantuannya secara resmi menjadi £1.000. Meski demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa kapal-kapal Ottoman tetap dikirim secara diam-diam membawa bantuan makanan dan obat-obatan ke pelabuhan Drogheda, di pantai timur Irlandia.

Tindakan kemanusiaan tersebut dikenang sebagai simbol solidaritas lintas agama dan bangsa pada masa penuh penderitaan. Hingga kini, hubungan persahabatan antara Irlandia dan Turki modern (pewaris Kesultanan Utsmaniyah) masih dihormati melalui berbagai kegiatan budaya dan peringatan sejarah. Kisah ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan empati dapat melampaui batas politik, agama, dan wilayah geografis, bahkan dalam situasi paling kelam dalam sejarah umat manusia. Hubungan erat keduanya terlihat dalam simbol Kota Drogheda dan Tim Sepakbolanya Drogheda United F.C. yang memakai simbol Bulan Sabit dan Bintang.


Aidul Azhari Harahap/ STIT PL Gunung Tua


Sumber:

Mark G. McGowan, ‘‘The Famine Plot Revisited: A Reassessment of the Great Irish Famine as Genocide,’’ Genocide Studies International 11, 1 (Spring 2017): 87–104.

Müzehher Yamaç, “Famine in Ireland and Ottoman Aid”, Journal of Anglo-Turkish Relations 6, 1 (January 2025): 107-138.

Hasanul Rizqa, “Derma Kesultanan Utsmaniyah untuk Irlandia”, historia.id., https://www.republika.id/posts/9274/derma-kesultanan-utsmaniyah-untuk-irlandia, diakses 05 November 2025, pukul 03.03 WIB.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "The Great Irish Famine 1845-1852: Sejarah Hubungan Ottoman dan Irlandia"

Posting Komentar