Kerajaan Haru: Imperium Selat Malaka, Ditakuti Portugis, dan Mulai Terlupakan dalam Sejarah
![]() |
| Ilustrasi Kerajaan Haru di Selat Malaka |
Kerajaan Haru atau
dikenal juga dengan sebutan “Aru” adalah kerajaan maritim kuat di pantai timur
Sumatera Utara (abad 13-16 M) sepeninggal runtuhnya Kerajaan Besar Sriwijaya
yang menguasai bagian utara Selat Malaka. Dikenal sebagai kekuatan bahari yang
disegani dan sering berkonflik dengan Kerajaan Malaka, Haru memiliki armada
kapal besar yang mengontrol jalur perdagangan internasional (mengambil alih
peran Sriwijaya) serta dikenal karena praktik perompakan yang ditakuti, bahkan
armada laut Portugis ketakutan apabila berhadapan dengan armada laut Kerajaan Haru,
sampai-sampai disebut “Perompak Besar dan Kejam” selat Malaka. (Aidul Azhari
Harahap)
**I**
Dalam historiografi populer
Nusantara, Kerajaan Haru (Aru) kerap direduksi menjadi “kerajaan perompak” yang
beroperasi di Selat Malaka. Narasi ini berakar kuat pada laporan Portugis awal
abad ke-16 yang memandang kekuatan maritim lokal sebagai ancaman bagi
kepentingan dagang Eropa di Nusantara. Namun, pembacaan demikian menutup
kompleksitas Haru sebagai polity maritim–hinterland multietnis yang
beroperasi dalam jaringan perdagangan Asia Tenggara abad ke-13 hingga ke-16
Masehi. Artikel ini mengajukan pembacaan ulang tentang kajian Kerajaan Haru
bukan sekadar aktor kekerasan laut – dalam pandangan pelaut Portugis karena
jalur dagangny terganggu, melainkan menjadi simpul geopolitik Selat Malaka
utara dengan kapasitas militer mumpuni–ekonomi yang rasional dalam logika
kompetisi maritim pra-kolonial di Asia Tenggara.
Selat Malaka sebagai Arteri
Global
Sejak abad ke-13 Masehi, Selat
Malaka adalah arteri utama perdagangan samudra India–Tiongkok, bahkan Eropa
mulai menggunakan jalur ini sebagai lintas dagang ke Eropa. Komoditas Asia
Tenggara (hasil hutan, resin, kamper/kapur barus, rotan, lilin, rempah-rempah
tertentu) mengalir ke pasar global melalui pelabuhan-pelabuhan pesisir Sumatra
dan Semenanjung Melayu. Dalam ekosistem kosmopolitan ini, kekuatan politik
diukur bukan oleh luas daratan administratif, melainkan oleh kemampuan
mengamankan jalur pelayaran, mengontrol muara sungai, memungut bea cukai, dan
menjaga akses ke hinterland pemasok komoditas. Haru tumbuh tepat di
simpul ini—pesisir timur Sumatra Utara yang terhubung dengan pedalaman
(Langkat–Karo dan jejaring sungai-sungai seperti sungai Bilah, sungai Batang
Gadis, sungai Barumun dan lain-lain) serta berhadapan langsung dengan lalu
lintas Selat Malaka utara.
![]() |
| Ilustrasi Peta Sumatera dan Selat Malaka |
Kerajaan Haru bukan sekadar
pelabuhan kecil di pesisir Sumatra. Haru adalah simpul jaringan
pesisir–pedalaman, aktor geopolitik maritim, dan jembatan transisi peradaban
dari dunia Hindu–Buddha ke Islam di Selat Malaka. Istilah “perompak” untuk Haru
pertama kali muncul dalam narasi penjelajah/kolonial Eropa (mis. Tome Pires)
dan kemudian diulang dalam sumber populer modern. Hal ini bukan gaya bahasa
dari catatan Nusantara klasik, melainkan interpretasi dari luar yang
mencerminkan persepsi mereka terhadap kekuatan maritim Haru di Selat Malaka.
(Historia.Id)
Haru tidak dapat dipahami sebagai
“kerajaan teritorial modern”. Haru beroperasi dalam model mandala kecil:
pusat-pusat pesisir yang fleksibel, jaringan muara sungai, serta aliansi dengan
elite pedalaman. Pusat pemerintahan Haru tidak tunggal dan cenderung berpindah
mengikuti kalkulasi strategis (akses muara, pertahanan, dan perdagangan).
Kandidat lokasi yang sering diajukan mencakup kawasan Deli–Serdang (termasuk situs
Kota Rentang/Hamparan Perak) serta muara sungai strategis di Langkat. Mobilitas
pusat ini adalah ciri polity maritim adaptif, bukan kelemahan administratif.
Pusat pemerintahan Kerajaan Haru
kemungkinan berada di beberapa lokasi strategis pesisir timur Sumatra Utara,
dengan Kota Rentang (sekitar Medan-Deli Serdang) sebagai kandidat terkuat,
sementara teori lain menunjukkan Teluk Aru (Langkat) atau bahkan muara Sungai
Barumun–Panai (Labuhanbatu) sebagai kemungkinan pusat lain pada fase sejarah
tertentu.
Secara geopolitik, beberapa catatan
sejarah dan narasi tradisional mengaitkan Aru dengan kawasan pesisir yang lebih
luas. Interpretasi ini mencerminkan kemungkinan jangkauan pengaruh ekonomi dan
diplomatik, bukan batas negara administrative. Catatan historis juga
menunjukkan bahwa Aru disebut dalam catatan Tiongkok (Yuan dan Ming) dan dalam
teks Jawa seperti Nagarakretagama dan Pararaton. Ini menunjukkan bahwa Haru
berinteraksi secara diplomatik—bahkan disebut sebagai salah satu bagian yang
perlu dikalahkan dalam Sumpah Palapa Gajah Mada (Majapahit), karena pengaruhnya
di Selat Malaka yang cukup kuat sebagai jalur dagang saat itu.
Lokasi pasti pusat kekuasaan Haru
tidak tunggal—beberapa ahli menunjukkan bahwa pusat kerajaan relative berpindah
antara muara sungai besar atau pelabuhan strategis di pesisir utara. Pada
puncak kejayaannya, Aru adalah kekuatan maritim yang diakui luas dan mampu
mengendalikan bagian utara Selat Malaka, yaitu zona laut yang menjadi arteri
perdagangan antara India–China–Nusantara. Namun, sejarawan sepakat bahwa
wilayah inti Haru berada di pesisir timur Pulau Sumatera Utara, mencakup
kawasan yang kini termasuk Medan dan Deli Serdang, dan Pantai Timur Sumatera
Utara yang menghadap Selat Malaka sebagai basis strategisnya.
Identitas Multietnis: Melayu
Maritim & Basis Hinterland
Perdebatan “Haru Melayu atau
Batak” lahir dari anakronisme kategori etnis modern. Menurut artikel
Tobatabo.com, hal ini berawal dari pengakuan masyarakat Karo menyebutkan kata
Haru atau Aru berasal atau berakar dari kata “Karo”. Dalam buku “Kisah
Perjalanan Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi” menyebutkan bahwa Kerajaan Haru
(Aru) sudah berdiri sejak awal tahun Masehi atau sekitaran 685 Masehi yang
didirikan Pa Lagan dari Karo di dekat Teluk Aru yang disebut-sebut sebagai
Kerajaan Karo Tua atau Karo Kuno.
Pendapat ini secara akademik belum didukung karena tidak ada catatan sejarah sezaman yang menyebutkan Haru atau Aru dalam sejarah Nusantara sebelum abad ke 13 Masehi. Namun, secara historis, Haru tercatat sebagai bentuk kerajaan polity multietnis, karena:
- Ranah pesisir beroperasi dalam bahasa dan etos Melayu-maritim sebagai lingua franca dagang–diplomasi.
- Basis hinterland bertumpu pada komunitas pedalaman Sumatra Utara (khususnya jejaring Karo) sebagai pemasok komoditas, tenaga, dan legitimasi lokal.
- Elite Haru mempraktikkan identitas ganda, yaitu: kosmopolitan di laut, berjejaring kekerabatan di darat. Inilah kunci ketahanan politik Haru sebelum tekanan regional meningkat pada abad ke-16.
Kekuatan Haru bertumpu pada rantai
nilai komoditas pedalaman–pesisir. Hasil hutan bernilai tinggi (resin,
kamper/kapur barus, rotan, lilin dan lain-lain) mengalir melalui sungai ke
pelabuhan Haru, lalu diperdagangkan ke jaringan Selat Malaka. Pergeseran pusat
gravitasi perdagangan ke pelabuhan tertentu (termasuk Barus sebagai node
pesisir untuk kamper) tidak berarti “asal komoditas berpindah”, melainkan node
distribusinya berubah. Hal ini menjelaskan mengapa memori komoditas sering
melekat pada pelabuhan, sementara basis produksinya tetap di hinterland.
Kekuatan Maritim, Agama, dan
Sosiokultur: Haru “Perompak Kejam” Selat Malaka
Kekuatan maritim Haru tidak bisa
dianggap remeh pada masa jayanya, berdasarkan catatan pelaut Portugis Tomé
Pires pada awal abad ke-16 menjadi salah satu sumber asing pertama yang
menggambarkan Aru secara langsung. Pires menulis bahwa Aru memiliki armada
kapal laut yang kuat dan secara efektif “mengontrol” lalu lintas maritim di
Selat Malaka pada masa itu. Karena Aru dapat memberhentikan dan mengatur kapal
asing, narasi Eropa kemudian melukiskan aktivitas ini sebagai semacam
perompakan—terutama dari perspektif pedagang yang seringkali menjadi korban
konflik atau tuntutan upeti
Label atau istilah “kerajaan
perompak” atau “perompak kejam”, atau “negeri bajak laut”, atau “penguasa Selat
Malaka yang suka merompak” yang dilekatkan Portugis harus dibaca sebagai bias
aktor kolonial yang menghadapi kekuatan maritim lokal yang mampu mengganggu
monopoli dagang dan memungut bea cukai di jalur vital yang dilalui Portugis,
sehingga memaksa pedagang asing baru seperti Eropa terpaksa menyerahkan barang
dagang atau upeti kepada Kerajaan Haru di Selat Malaka. Bagi Haru, kekerasan
laut adalah instrumen geopolitik, yaitu sebagai pengamanan perairan inti,
penegakan klaim atas jalur pelayaran, dan tekanan terhadap pesaing. Armada Haru
berfungsi sebagai coercive power untuk menjaga posisi tawar dalam
ekonomi Selat Malaka—praktik yang lazim di dunia pra-negara kolonial. Dengan
demikian, “ditakuti Portugis” atau l Label atau istilah “kerajaan perompak”
atau “perompak kejam”, atau “negeri bajak laut”, atau “penguasa Selat Malaka
yang suka merompak” justru menandakan kapabilitas maritim efektif Haru, bukan
sebagai kriminalitas laut di Selat Malaka.
Sebelum Islamisasi, lanskap
keagamaan pesisir timur Sumatra bersifat sinkretik Hindu–Buddha bercampur
kepercayaan lokal. Islam masuk melalui jaringan dagang, pernikahan, dan
patronase elite—bukan penaklukan instan. Di Kerajaan Haru sendiri, adopsi Islam
oleh elite memperluas akses ke jaringan solidaritas dagang Muslim Selat Malaka,
meningkatkan legitimasi diplomatik, dan memperkuat posisi dalam kompetisi
regional (khususnya menghadapi Aceh yang kemudian menjadi kekuatan Muslim
hegemonik). Transformasi ini bertahap, minim konflik besar, dan menggeser
institusi sosial: masjid menjadi pusat komunitas, norma hukum Islam masuk
berdampingan dengan adat.
Tradisi “Raja Berempat”
mencerminkan mekanisme kolektif elite adat (urung) dalam menentukan legitimasi
penguasa dan menyeimbangkan kekuasaan monarki. Hal ini menunjukkan bahwa
Haru—dan formasi pasca-Haru di Sumatra Timur—tidak beroperasi sebagai monarki
absolut, melainkan hibrida monarki–adat yang menyalurkan suara komunitas
pedalaman ke pusat pesisir. Model ini menjelaskan stabilitas relatif Haru dalam
fase awal dan adaptasinya ketika tekanan eksternal meningkat.
Benteng Putri Hijau di kawasan
Deli Tua dipahami sebagai infrastruktur pertahanan yang terkait dengan lanskap
politik Haru. Artefak perdagangan dan struktur pertahanan tanah–parit
mengindikasikan kesiapsiagaan militer menghadapi konflik regional abad ke-16
(termasuk tekanan Aceh). Folklor Putri Hijau menandai memori kultural yang
menempel pada situs pertahanan, memperlihatkan bagaimana sejarah material dan
narasi lokal berkelindan.
Kemunduran & Warisan: Dari
Aru ke Kesultanan Pesisir
Tekanan geopolitik abad ke-16
(ekspansi Aceh, kompetisi Melaka–Portugis, reorientasi rute dagang) menggerus
basis ekonomi–militer Haru. Ketika patronase melemah, jejaring polity
terfragmentasi. Namun, Haru tidak “lenyap tanpa jejak” akan tetapi warisannya
bertransformasi menjadi kesultanan pesisir (Deli, Serdang, Langkat) dengan
struktur Islam–maritim yang mengadopsi sebagian mekanisme legitimasi lama. Hal
ini menunjukkan kontinuitas institusional melalui transformasi, bukan
kehancuran total. Kerajaan Haru secara historis mengalami dua fase, dimana fase
pertama antara abad ke 13 sampai awal abad ke 16 berpusat di Kota Rentang namun
setelah beberapa kali mengalami serangan dari Kerajaan lain terutama Aceh
sehingga Haru berpindah ke pedalaman yang kemudian disebut sebagai fase kedua.
Fase kedua ini berjalan dari abad ke 16 hingga 17 Masehi, Kerajaan Haru
bertranformasi dari Kerajaan Maritim menjadi Kerajaan Pedalaman yang berpusat
di Deli Tua.
Membaca Haru sebagai “Network
Power”
Alih-alih melihat Haru sebagai kerajaan teritorial atau sekadar “perompak” dalam label Portugis, pada artikel ini menekankan Haru sebagai kekuatan jejaring (network power), karena:
- Kekuatan maritim sebagai instrumen politik rasional pra-kolonial;
- Rantai nilai hinterland–pesisir sebagai fondasi ekonomi;
- Identitas ganda (Melayu-maritim & basis pedalaman) sebagai strategi legitimasi;
- Institusi kolektif (Raja Berempat) sebagai mekanisme stabilisasi politik.
Kerangka ini membantu menjelaskan
mengapa Haru mampu bertahan berabad-abad, diakui oleh aktor Asia, dan ditakuti
oleh Portugis—tanpa terjebak pada anakronisme negara modern.
Kerajaan Haru tercatat bukan
hanya dalam sumber Nusantara, tetapi juga dalam catatan asing seperti kronik
Dinasti Yuan dan Ming (Tiongkok). Haru mengirim utusan ke istana Kubilai Khan
pada 1282 dan 1295, yang berarti Aru diakui sebagai entitas politik berdaulat
sejak awal berdirinya sebagai kerajaan.
Catatan Tiongkok yang lebih rinci (mis. Xingcha Shenglan dan Yingyai Shenglan) menggambarkan:
- kunjungan armada Cheng Ho ke Aru,
- hubungan diplomatik formal sampai awal abad ke-15,
- meskipun setelah itu Haru hilang dari catatan Tiongkok.
Hal ini menunjukkan bahwa Haru
lebih dari sekadar kerajaan kecil — ia berada dalam jaringan hubungan
internasional Asia Tenggara abad pertengahan.
Kerajaan Haru menjadi simpul strategis Selat Malaka utara terutama sejak abad ke 13-15 Masehi, yaitu: kuat secara maritim, adaptif secara politik, kosmopolitan secara budaya, dan terintegrasi secara ekonomi dengan hinterland. Label dan istilah “kerajaan perompak”, atau “perompak kejam”, atau “negeri bajak laut”, atau “penguasa Selat Malaka yang suka merompak” menutup rasionalitas geopolitik pra-kolonial yang dijalankan Haru. Dengan membaca Haru sebagai polity jejaring, kita memperoleh gambaran lebih akurat tentang bagaimana kekuasaan, perdagangan, agama, dan identitas bekerja di Asia Tenggara abad pertengahan—serta mengapa kekuatan lokal mampu menantang aktor global seperti Portugis di perairan Malaka.
Catatan Penting: “banyak detail Haru masih terbuka untuk penelitian lanjutan (lokasi pusat yang berpindah, komposisi armada, dan skala kontrol muara). Kerangka “network power” membantu mengintegrasikan bukti fragmentaris tanpa memaksakan batas teritorial modern”.
Sumber:
Bakhrul Khair Amal, dkk. (2022). Bunga
Rampai Kisah Perjalanan dan Pengembaraan Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi
Pendiri Kota Medan dan Eksistenasi Masyarakat Karo, Medan: CV. Merdeka
Kreasi Group.
Dinas Kebudayaan Pemkab Deli
Serdang. (2009). Putri Hijau, Lubuk Pakam: Dinas Kebudayaan Pemkab Deli
Serdang.
Essi Hermaliza. (2014). Istana
Maemoon Sumatera Utara, Jakarta: Kemendikbud.
Risa Herdahita Putri. (2020). “Kerajaan
Aru, Riwayat Negeri Perompak”, Historia.id, https://www.historia.id/article/kerajaan-aru-riwayat-negeri-perompak-do45j#:~:text=Milner%20menyebut%20sangat%20mungkin%20pelabuhan,Malaka%2C%E2%80%9D%20tulis%20Ery%20Soedewo.,
diakses Kamis, 12 Februari 2026, Pukul 20.42 WIB.
Tobatabo. (2013). “Benarkah
Kerajaan Haru (Aru) itu Merupakan Cikal Bakal Kerajaan Karo?”, Tobatabo.com, https://www.tobatabo.com/news/batak/571+benarkah-kerajaan-haru-aru-itu-merupakan-cikal-bakal-kerajaan-karo.html,
diakses Kamis, 12 Februari 2026, Pukul 22.36 WIB.


0 Response to "Kerajaan Haru: Imperium Selat Malaka, Ditakuti Portugis, dan Mulai Terlupakan dalam Sejarah"
Posting Komentar