Keluarga Tionghoa dalam Kerusuhan 1998
Memahami secara Detail Kenapa Orang Tionghoa menjadi Sasaran dalam Kerusuhan 1998 dalam Sejarah Indonesia
![]() |
| Ilustrasi Kerususuhan Krisis Moneter 1998 Sumber: Modifikasi Chatgpt.Com |
Kerusuhan Mei
1998 merupakan salah satu titik paling gelap sekaligus paling menentukan dalam
sejarah Indonesia kontemporer. Peristiwa 13–15 Mei 1998 berlangsung ketika
Indonesia mengalami krisis ekonomi yang sangat parah, legitimasi politik
Presiden Soeharto runtuh, gerakan mahasiswa menuntut reformasi semakin meluas,
dan terjadi ketegangan serius di antara elite politik serta militer. Di tengah
situasi tersebut, warga Indonesia keturunan Tionghoa menjadi salah satu
kelompok yang mengalami kekerasan paling sistematis: rumah, toko, pusat
perdagangan, dan tempat usaha dirusak atau dibakar; terjadi pembunuhan,
penjarahan, serta kekerasan seksual terhadap perempuan, yang sebagian besar korban
yang teridentifikasi berasal dari etnis Tionghoa.
Artikel ini
berargumen bahwa menjelaskan kekerasan Mei 1998 semata-mata sebagai “kerusuhan
anti-Tionghoa” atau, sebaliknya, sebagai konsekuensi spontan dari krisis
ekonomi merupakan penyederhanaan. Sasaran terhadap warga Tionghoa terbentuk
melalui pertemuan beberapa lapisan sejarah: warisan kategorisasi rasial sejak
masa kolonial, kebijakan asimilasionis dan diskriminatif Orde Baru, stereotip
Tionghoa sebagai kelompok ekonomi yang relatif kaya, keterkaitan sebagian
konglomerat Tionghoa dengan rezim Soeharto, serta krisis ekonomi yang
menciptakan kebutuhan sosial akan kambing hitam. Kasus keluarga Salim dan
jaringan bisnis Liem Sioe Liong penting karena memperlihatkan bagaimana
identitas etnis, kekuasaan politik, dan kapitalisme kroni saling berkelindan.
Namun, hubungan
tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai bukti bahwa seluruh kerusuhan
dirancang untuk menghancurkan keluarga Salim atau komunitas Tionghoa. Laporan
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menunjukkan adanya persoalan serius mengenai
peran aparat, provokasi, konflik elite, dan kegagalan pengamanan, tetapi bukti
mengenai satu komando tunggal yang mengendalikan seluruh kerusuhan tidak cukup
untuk mendukung kesimpulan sederhana. Karena itu, tragedi Mei 1998 lebih tepat
dipahami sebagai pertemuan antara kekerasan horizontal dan krisis vertikal:
masyarakat melawan negara, massa melawan kelompok yang dijadikan kambing hitam,
dan elite berebut arah transisi kekuasaan.
#Mei1998
#Tionghoa #OrdeBaru #Soeharto #SalimGroup #Reformasi
Disclaimer: Tidak ada unsur kesengajaan dalam tulisan ini dalam menciptakan permusuhan dan rasa benci terhadap sesame apalagi terhadap etnis lain. Ingat! Indonesia itu mengandung filosofi “bhinneka tunggal ika”. Pada pembahasan ini hanya mengingat sejarah dan tidak mengulangnya, sehingga menjadikan semua peristiwa menajadi pembelajaran bersama.
Mengapa Orang
Tionghoa?
Pertanyaan mendasar
dalam bahasan ini bahwa “mengapa orang Tionghoa menjadi sasaran dalam
kerusuhan 1998?” terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung persoalan
sejarah yang sangat kompleks dan cukup rumit.
Pada Mei 1998,
Indonesia tidak hanya sedang mengalami krisis ekonomi. Negara juga sedang mengalami
krisis legitimasi. Nilai rupiah telah jatuh secara drastis, inflasi meningkat,
perusahaan mengalami kesulitan, pengangguran bertambah, harga kebutuhan pokok
melonjak, dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah merosot. Pada saat yang
sama, gerakan mahasiswa menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden
Soeharto.
Di tengah krisis
tersebut, kemarahan sosial tidak diarahkan hanya kepada pemerintah. Di berbagai
tempat, bisnis dan permukiman warga Tionghoa ikut menjadi sasaran. TGPF yang
dibentuk Presiden B.J. Habibie pada 23 Juli 1998 memang diberi mandat untuk
mengungkap fakta, pelaku, dan latar belakang peristiwa 13–15 Mei 1998.
Tim tersebut terdiri atas unsur pemerintah, Komnas HAM, LSM, dan organisasi
masyarakat. Laporan akhirnya diterbitkan pada Oktober 1998.
![]() |
| Kondisi Krisis Moneter 1998 Sumber: www.vice.com |
Salah satu
stereotip yang paling kuat dalam sejarah Indonesia modern adalah anggapan bahwa
orang Tionghoa identik dengan perdagangan, uang, dan kekayaan.
Tionghoa
sebagai “kelompok ekonomi” dalam imajinasi politik Indonesia
Stereotip
tersebut tentu tidak menggambarkan kenyataan sosial. Komunitas Tionghoa
Indonesia sangat heterogen: ada buruh, pedagang kecil, pegawai, petani,
profesional, pengusaha menengah, hingga konglomerat. Namun sejarah politik
membentuk persepsi yang berbeda.
Sejak masa
kolonial, penduduk dikategorikan berdasarkan ras dan status hukum. Politik
kolonial menghasilkan pemisahan sosial antara berbagai kelompok penduduk, dan
komunitas Tionghoa ditempatkan dalam posisi yang khas dalam struktur ekonomi
kolonial. Warisan tersebut tidak hilang setelah kemerdekaan. Sebaliknya, dalam
berbagai periode politik, identitas Tionghoa terus diperlakukan sebagai
persoalan politik, ekonomi, dan keamanan.
Hal ini
menghasilkan paradoks:
Orang Tionghoa diperlakukan sebagai kelompok yang “berbeda”, tetapi pada saat yang sama sebagian dari mereka ditempatkan dalam posisi ekonomi yang sangat penting. Paradoks tersebut menjadi semakin tajam pada masa Orde Baru. Dimana elit pengusahan yang hampir menguasai perekonomian Indonesia berada pada beberapa orang Tionghoa “yang dilindungi Cendana”, salah satunya yang sangat diingat sejarah disini adalah “Salim Group”.
Salah satu
karakteristik Orde Baru adalah kebijakan yang membatasi ekspresi identitas
Tionghoa, sementara pada sisi ekonomi rezim tersebut mengembangkan hubungan
yang erat dengan sejumlah pengusaha keturunan Tionghoa. Bahasa, kebudayaan,
organisasi, dan simbol-simbol identitas Tionghoa mengalami pembatasan yang
panjang. Tetapi di sisi lain, sejumlah pengusaha Tionghoa memperoleh akses luar
biasa terhadap modal, lisensi, proyek, monopoli, kredit, dan jaringan
kekuasaan.
Dengan demikian,
lahirlah kontradiksi: Sebagai kelompok etnis, Tionghoa dimarginalkan;
sebagai bagian dari elite ekonomi tertentu, sejumlah pengusaha Tionghoa justru
memperoleh posisi sangat kuat. Kontradiksi inilah yang kemudian menjadi
sangat berbahaya. Masyarakat tidak melihat seluruh komunitas Tionghoa secara
individual. Yang terlihat adalah simbol. Dan simbol yang terbentuk selama Orde
Baru kurang lebih berbunyi:
Tionghoa → pengusaha → kaya → konglomerat → kroni → Soeharto.
Rantai tersebut
tentu merupakan penyederhanaan yang keliru. Namun dalam situasi krisis,
persepsi sosial tidak harus benar untuk menjadi berbahaya.
Munculnya
konglomerat Tionghoa dan “kapitalisme kroni”
Di sinilah kasus
Liem Sioe Liong menjadi penting.
![]() |
| Liem Sioe Liong Sumber: www.baike.com |
Salim
membutuhkan Soeharto untuk melindungi ekosistem bisnisnya, tetapi ketika rezim
Soeharto kehilangan legitimasi, kedekatan itu justru membuat Salim menjadi
simbol dari rezim yang sedang dibenci.
Kajian Richard
Borsuk dan Nancy Chng tentang Salim Group menggambarkan Liem sebagai salah satu
figur bisnis yang sangat dekat dengan Soeharto dan sebagai bagian penting dari
sistem patronase politik-ekonomi Orde Baru. Pada puncak kejayaannya, Salim
Group merupakan konglomerasi yang sangat besar, dengan ratusan perusahaan yang
bergerak di berbagai sektor strategis seperti tepung terigu, semen, makanan,
dan perbankan.
Karena itu, Liem
bukan sekadar “pengusaha Tionghoa”. Ia merupakan simbol dari sesuatu yang jauh
lebih besar, yaitu “hubungan antara negara, kekuasaan, patronase, dan kapital”.
Dalam terminologi politik-ekonomi, persoalan tersebut sering dibahas melalui
konsep crony capitalism—sistem di mana keberhasilan bisnis sangat
dipengaruhi oleh hubungan istimewa dengan pusat kekuasaan.
Masalahnya
adalah bahwa masyarakat kemudian dapat menggeneralisasikan perilaku segelintir
konglomerat menjadi identitas seluruh kelompok. Inilah salah satu jembatan
menuju tragedi 1998.
Pada krisis Asis
1997-1998 menjadikan Rupiah kehilangan nilainya secara besar-besaran. Utang
dalam valuta asing menjadi sangat berat. Perusahaan-perusahaan kesulitan
membayar kewajiban. Sistem perbankan mengalami tekanan. Masyarakat menghadapi
kenaikan harga dan ketidakpastian. Menurut hukum masyarakat, masalah ini hanya dating
dari satu arah yaitu Elit Negara. Padahal dalam hukum ekonomi masalah ini
sangat rumit dan kompleks, mulai dari masalah utang luar negeri, struktur
perbankan, liberalisasi keuangan, lemahnya regulasi, kebijakan nilai tukar,
arus modal, dan kepanikan finansial.
Hal ini yang menjadikan
munculnya pemikiran dasar masyarakat yang oleh Negara sendiri yang melakukan
marjinalisasi terhadap kelompok tertentu. Masyarakat menilai Elit dan kelompok
konglomerat yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan, dan menurunnya rupiah
yang meluas di seluruh Indonesia saat itu. Alhasil, keturunan Tionghoa menjadi
salah satu sasaran kemarahan masyarakat karena perbedaan kelas ekonomi dapat
berubah menjadi kebencian terhadap kelompok etnis.
Di sinilah
terjadi proses ethnic scapegoating—pengalihan kesalahan struktural
kepada kelompok sosial tertentu. Walaupun pada dasarnya krisis ekonomi ini
bukan penyebab tunggal, melainkan telah adanya penilaian lebih awal sejak
Suharto menjadi presiden Indonesia yaitu kondisi politik dan social sehingga
prasangka lama menjadi aktif dalam kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan
tersebut.
Jika kita
berpikiran: “mengapa bukan hanya keluarga Cendana saja yang menjadi sasaran?
Kenapa kelompok Tionghoa yang hampir diseluruh Indonesia menjadi sasaran juga? Hal
ini dikarenakan pada akhir periode Orde Baru terdapat dua symbol yang tumpang
tindih. Pertama, Cendana sebagai simbol kekuasaan politik, dan Kedua,
konglomerat sebagai simbol kekayaan ekonomi. Sebagian besar konglomerat ini
diisi oleh kelompok Tionghoa. Sehingga muncul pemahaman: cendana = kekuasaan,
konglomerat = kekayaan, dan Tionghoa = konglomerat. Yang oleh masyarakat
menjadi dasar terjadinya kemiskinan, perputaran ekonomi yang tidak merata, dan
krisis moneter terbesar dalam sejarah Indonesia.
Ketiganya dapat tercampur menjadi satu. Padahal
secara faktual hubungan tersebut tidak benar. Seorang pedagang Tionghoa di
Glodok tidak otomatis mempunyai hubungan dengan Salim Group. Seorang pemilik
toko kecil tidak otomatis menjadi bagian dari kapitalisme kroni. Bahkan
sebagian besar warga Tionghoa yang menjadi korban kerusuhan tidak mempunyai hubungan
apa pun dengan elite ekonomi. Namun kekerasan massa bekerja melalui
kategorisasi, bukan verifikasi individual.
Pada akhirnya, orang-orang Tionghoa yang hampir tersebar di seluruh
Indonesia menjadi sasaran. Rumah, toko, kendaraan, pusat perdagangan, dan warga
Tionghoa menjadi sasaran. Kekerasan seksual terhadap perempuan juga terjadi.
Komnas Perempuan, berdasarkan temuan TGPF, mencatat puluhan kasus kekerasan
seksual dalam rangkaian peristiwa Mei 1998 dan menegaskan bahwa sebagian besar
korban perempuan yang teridentifikasi berasal dari etnis Tionghoa.
Komnas Perempuan menyatakan bahwa TGPF menemukan 92 tindakan kekerasan
seksual dalam wilayah Jakarta dan sekitarnya, Medan, dan Surabaya, termasuk
perkosaan dengan penganiayaan, penyerangan seksual/penganiayaan, dan pelecehan
seksual. Komnas Perempuan kemudian dibentuk melalui Keputusan Presiden No. 181
Tahun 1998, setelah Presiden Habibie menerima laporan dan audiensi mengenai
kekerasan terhadap perempuan dalam kerusuhan tersebut. Dalam perkembangan
terbaru, Komnas Perempuan kembali menegaskan pada 2026 bahwa kekerasan seksual
Mei 1998 merupakan fakta resmi yang didasarkan pada mekanisme penyelidikan
negara dan temuan TGPF.
Liem Sioe Liong merupakan salah satu penerima manfaat paling besar dari
sistem Orde Baru. Namun ketika sistem itu runtuh, ia juga menjadi salah satu
simbol yang paling mudah diserang. Kajian mengenai Salim Group mencatat bahwa
rumah Liem dibakar dalam kerusuhan Mei. Beberapa bulan kemudian, struktur
ekonomi Salim mulai berhadapan langsung dengan mekanisme restrukturisasi
negara.
Dengan demikian, ada unsur ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Orde Baru
saat itu, secara umum kelompok Tionghoa sangat termarjinalkan selama
pemerintahan Orde Baru, dilain sisi kelompok ini juga dekat dengan Cendana yang
hampir setengah kegiatan ekonomi Negara berada ditangan kelompok ini, salah
satunya Salim Group. Masyarakat menganggap kedua elit ini menjadi dasar
terjadinya krisis ekonomi, lemahnya rupiah, dan kondisi yang sangat
memprihatinkan masyarakat umum, apalagi golongan ekonomi tengah hingga rendah.
Masyarakat menanggung beratnya hidup dan mencari makan, sedangkan
kelompok Cendana dan Elit hidup dalam kemewahan tanpa beban hidup yang berarti.
Secara tidak langsung ini menjadi bom waktu terhadap pemangku kepentingan,
dimana masyarakat sedang mengalami kondisi buruk, sedangkan elitnya
berfoya-foya, akibatnya “orang tak bersalah menjadi sasaran kebrutalan emosi
masyarakat” walau sebenarnya mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi bahkan
tidak ikut menikmatinya. Semoga kiranya, ini menjadi pembelajaran bagi kita
semua! Wallahu A’lam Bishshowab!
Sumber:
Komnas Perempuan. (2001). Laporan Tiga Tahun Pertama Komisi Nasional
Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 1998-2001, Jakarta: Komnas Perempuan.
Human Rights Watch. (1998). “Indonesia Alert: Economic Crisis Leads to
Scapegoating of Ethnic Chinese”, hrw.org, https://www.hrw.org/news/1998/02/11/indonesia-alert-economic-crisis-leads-scapegoating-ethnic-chinese?utm_source=chatgpt.com,
diakses pada 12 Juli 2026.
Komnas Perempuan. (1998). Napak Reformasi: Tragedi Mei 1998,
Jakarta: Komnas Perempuan.
Human Rights Watch. (1998). “Indonesia: The Post-Soeharto Crisis”,
hrw.org, https://www.hrw.org/news/1998/06/04/indonesia-post-soeharto-crisis?utm_source=chatgpt.com,
diakses pada 12 Juli 2026.
Borsuk, Richard & Nancy Chng. (2014). Liem Sioe Liong's Salim
Group: The Business Pillar of Suharto's Indonesia. Singapore: ISEAS–Yusof
Ishak Institute.
Tim Gabungan Pencari Fakta (1998). Laporan Akhir Tim Gabungan Pencari
Fakta Peristiwa Kerusuhan 13–15 Mei 1998. Jakarta: https://id.wikisource.org/wiki/Laporan_Tim_Gabungan_Pencari_Fakta_(TGPF)_Peristiwa_Tanggal_13-15_Mei_1998,
diakses pada 12 Juli 2026.
.png)


0 Response to "Keluarga Tionghoa dalam Kerusuhan 1998"
Posting Komentar